Nasabah Jiwasraya 'Geruduk' Kantor Erick Thohir

CNN Indonesia | Selasa, 17/12/2019 12:25 WIB
Nasabah PT Asuransi Jiwasraya mendatangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir untuk menagih pembayaran klaim yang tertunggak. Nasabah PT Asuransi Jiwasraya mendatangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir untuk menagih klaim yang tertunggak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mendatangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir. Mereka berniat menagih klaim yang tertunggak oleh perusahaan asuransi milik negara tersebut.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Selasa (17/12), mereka datang bergiliran. Tiga nasabah pertama datang sekitar pukul 10.40 WIB. Disusul dua nasabah lainnya pada pukul 10.52 WIB, dan dua nasabah lagi pada pukul 11.04 WIB.

Haresh, salah satu nasabah Jiwasraya, mengaku bersama rombongan lainnya akan bertemu dengan Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga. Pihaknya ingin meminta penjelasan dari pemerintah, selaku pemegang saham terbesar Jiwasraya mengenai penyelesaian pembayaran klaim produk saving plan.


"Kami sudah buat surat, tapi tidak tahu diterima atau tidak. Kami ingin tanya ini (tunggakan klaim produk saving plan) kapan diselesaikan," ungkap Haresh.
Nasabah Jiwasraya 'Geruduk' Kantor Erick ThohirSalah satu nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menyambangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir untuk menagih pembayaran klaim yang tertunggak. (CNN Indonesia/ Dinda Audriene).
Ia mengaku membeli produk saving plan melalui Standard Chartered Bank Indonesia pada 2017 lalu. Tak sendiri, dua anak Haresh juga ikut membeli polis produk asuransi tersebut.

"Ditawarkan oleh Standard Chartered katanya hasil lebih bagus daripada deposito. Memang dibilang bagus jadi beli, lalu dibilangnya asuransi bebas pajak penghasilan," jelasnya.

Lebih lanjut ia menyatakan pembayaran klaim pada tahun pertama masih lancar. Sementara, pembayaran klaim mulai tersendat pada 6 Oktober 2018.

"Mulai macet (pembayaran) 6 Oktober 2018. Dari saat itu sampai hari ini belum ada pembayaran," terang Haresh.

Nasabah lainnya bernama Tomy juga mengaku ingin meminta penjelasan kepada Kementerian BUMN mengenai kelanjutan pembayaran tunggakan klaim produk saving plan. Kebetulan, ia baru menjadi nasabah satu tahun terakhir.

"Sudah mau tutup tahun, mau tahu beritanya bagaimana," kata Tomy.

Ia sengaja menempatkan sejumlah dananya di produk asuransi saving plan agar bisa menghasilkan keuntungan. Ia bilang polisnya jatuh tempo pada pertengahan tahun ini.

"Beli produk asuransi untuk mutar dana lagi," ucap Tomy.

Sebagai informasi, Sebagai catatan, Jiwasraya menjual produk saving plan lewat tujuh bank mitra, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT KEB Hana Bank Indonesia, PT Bank QNB Indonesia, Standard Chartered Bank Indonesia, PT Bank Viktoria International Tbk.

Namun, pada Oktober 2018 lalu, perseroan meminta penundaan pembayaran klaim polis jatuh tempo sebesar Rp802 miliar akibat tekanan likuiditas. Pemerintah sejauh ini masih mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan gagal bayar Jiwasraya.

Rombongan nasabah Jiwasraya baru keluar kantor Kementerian BUMN sekitar pukul 11.40 WIB. Haresh menyatakan salah satu staf di Kementerian BUMN akan menemui nasabah setelah pukul 12.00 WIB.

"Mereka mengatakan kami akan dipertemukan oleh salah satu staf dari Kementerian BUMN setelah makan siang," kata Haresh.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)