IESR Ramal PLTS Atap Makin Diminati Tahun Depan

CNN Indonesia | Rabu, 18/12/2019 10:07 WIB
IESR memperkirakan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atas akan meningkat pesat pada 2020. Ilustrasi pemanfaatan PLTS. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Institute for Essential Services Reform (IESR) memprediksi penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap akan meningkat signifikan pada 2020.

"Untuk 2020, tren yang positif itu untuk solar PV rooftop (panel surya), picking up nya mulai dari rumah tangga sampai industri," ujar Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa di SCBD, Jakarta, Selasa (17/12).

Dalam ranah pembangunan rumah saja, Fabby menyebut permintaan PLTS atap bisa mencapai lebih dari 655 Mega Watt (MW) pada tahun depan.


Angka tersebut juga akan semakin tinggi bila ditotal dengan bangunan industri dan komersial yang memiliki potensi penyerapan sebesar 12 hingga 15 Giga Watt (GW) yang diprediksi terjadi di 2020.

"Tahun depan itu perkiraan kasarnya untuk komersial dan industri itu bisa di atas 300 MW karena beberapa industri besar sudah punya rencana memasang 5 MW, 7 MW, hingga 10 MW. Di Jawa Tengah, beberapa industri besar sudah mengatakan mau pasang itu," ungkapnya.

Menurut Fabby, peningkatan permintaan tak lepas dari karakteristik PLTS Atap yang tergolong mudah untuk diaplikasikan dibandingkan dengan teknologi energi baru terbarukan (EBT) lain, dan lebih umum.

"Kalau kita lihat, dia itu punya karakteristik modular, teknologinya gampang diakses, dan bisa diaplikasikan dalam skala kecil, artinya ada potensi yang besar di rumah tangga, bangunan rumah, bangunan komersial, lalu juga industri," tuturnya.

Selain itu, Fabby menilai industri juga mulai melirik penggunaan teknologi panel surya dalam PLTS Atap. Terlebih, terdapat revisi Peraturan Menteri Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2019 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) yang juga mendukung penggunaan PLTS Atap.

Sebagai catatan, dalam beleid tersebut, konsumen PLN seperti pengusaha, ataupun masyarakat umum dapat dilayani dengan pemasangan PLTS Atap tersambung (on-grid) ataupun off grid yang tidak dikenai biaya kapasitas.

"Dengan revisi peraturan Menteri ESDM yang berkaitan dengan SLO (Sertifikat Laik Operasi) dan Capacity Charge (biaya kapasitas), kami melihat industri mulai bergairah untuk memasang, karena mulai masuk ke ekonomiannya. Jadi kita lihat untuk industri ini mereka mulai naik terus," jelasnya.

Ke depan, sambungnya, penggunaan PLTS Atap harus terus didukung oleh pemerintah demi mencapai target bauran energi baru terbarukan yang dicanangkan oemerintah akan mencapai 23 persen di 2025. IESR sendiri memperkirakan Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$70 miliar hinga U$90 miliar.

"(PLTS) atap ini bisa menjadi salah satu program yang bila dikembangkan akan membantu pemerintah mencapai target tersebut, dan menambah daya saing di ranah energi terbarukan," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)