"Untuk 2020, tren yang positif itu untuk solar PV rooftop (panel surya), picking up nya mulai dari rumah tangga sampai industri," ujar Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa di SCBD, Jakarta, Selasa (17/12).
Dalam ranah pembangunan rumah saja, Fabby menyebut permintaan PLTS atap bisa mencapai lebih dari 655 Mega Watt (MW) pada tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Minat Bangun PLTU Batu Bara Kian Surut |
"Kalau kita lihat, dia itu punya karakteristik modular, teknologinya gampang diakses, dan bisa diaplikasikan dalam skala kecil, artinya ada potensi yang besar di rumah tangga, bangunan rumah, bangunan komersial, lalu juga industri," tuturnya.
Selain itu, Fabby menilai industri juga mulai melirik penggunaan teknologi panel surya dalam PLTS Atap. Terlebih, terdapat revisi Peraturan Menteri Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2019 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) yang juga mendukung penggunaan PLTS Atap.
Lihat juga:Jokowi Klaim Sudah Kenali 'Mafia' Migas |
"Dengan revisi peraturan Menteri ESDM yang berkaitan dengan SLO (Sertifikat Laik Operasi) dan Capacity Charge (biaya kapasitas), kami melihat industri mulai bergairah untuk memasang, karena mulai masuk ke ekonomiannya. Jadi kita lihat untuk industri ini mereka mulai naik terus," jelasnya.
Ke depan, sambungnya, penggunaan PLTS Atap harus terus didukung oleh pemerintah demi mencapai target bauran energi baru terbarukan yang dicanangkan oemerintah akan mencapai 23 persen di 2025. IESR sendiri memperkirakan Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$70 miliar hinga U$90 miliar.
"(PLTS) atap ini bisa menjadi salah satu program yang bila dikembangkan akan membantu pemerintah mencapai target tersebut, dan menambah daya saing di ranah energi terbarukan," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)