Jokowi Sebut Negara Hemat Rp56 T Jika TPPI Beroperasi Penuh

tim, CNN Indonesia | Minggu, 22/12/2019 12:23 WIB
Jokowi menyatakan negara bisa menghemat devisa Rp56 triliun jika pengembangan kilang milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama sudah beroperasi penuh. Jokowi menyatakan negara bisa menghemat devisa Rp56 triliun jika pengembangan kilang milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama sudah beroperasi penuh.(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan negara bisa menghemat devisa sebesar US$4,9 miliar atau Rp56 triliun jika pengembangan kilang milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) sudah beroperasi penuh.

Hal ini disampaikan Jokowi saat berkunjung ke kilang TPPI di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, Sabtu (21/12) kemarin. Jokowi turut ditemani Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Komisaris PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Jokowi meminta Erick, Ahok, dan Nicke agar pengembangan kilang TPPI segera rampung. Ia menyatakan sudah terlalu lama menanti penyelesaian pengembangan kilang tersebut.


"Kilang TPPI ini merupakan salah satu kilang yang terbesar di Indonesia yang dapat menghasilkan produk aromatik, baik para-xylene, ortho-xylene, bensin, toluene, heavy aromatic, dan juga penghasil BBM, premium, pertamax, elpiji, solar, kerosene, ini bisa untuk semuanya," ungkap Jokowi dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (22/12).


Jokowi mengatakan bahwa kawasan TPPI akan dikembangkan menjadi industri petrokimia. Untuk itu, Ia meminta agar pengembangan kawasan tersebut rampung selambatnya tiga tahun dari sekarang.

"Mintanya tadi empat tahun, tapi tiga tahun harus rampung semuanya. Entah itu dengan kerja sama, entah itu dengan kekuatan sendiri. Saya kira ada pilihan-pilihan yang bisa diputuskan segera. Tapi saya minta nanti di bulan Januari sudah ada kejelasan mengenai ini karena ini saya tunggu sudah 5 tahun," tegas Jokowi.

Ia mengatakan kilang TPPI sudah dibangun sejak 20 tahun silam, hanya saja operasionalnya belum maksimal karena tersendat sejumlah masalah. Oleh karena itu, Jokowi berharap kilang itu bisa segera beroperasi penuh, sehingga dapat menekan impor ke depannya.

"Ini kalau bisa nanti produksinya sudah maksimal bisa menghemat devisa US$4,9 miliar. Besar sekali kurang lebih Rp56 triliun. Ini merupakan substitusi, karena setiap tahun Indonesia impor, impor, impor. Padahal kita bisa buat sendiri, tapi tidak kita lakukan," Jokowi.

Diketahui, TPPI merupakan anak usaha dari PT Tuban Petrochemical Industries (TPI). Pertamina menggenggam 51 persen saham TPI, sedangkan 47 persen dipegang oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Sisanya 2 persen dimiliki oleh PT Silakencana Tirtalestari.

"Ya masih 2 persen tapi akan segera diselesaikan. Januari yang saya bilang tadi. Januari harus rampung," jelas Jokowi.

Sementara itu, Nicke menyatakan peluang bisnis petrokimia di Indonesia mencapai Rp40 triliun-Rp50 triliun per tahun. Tak hanya itu, Pertamina juga akan lebih diuntungkan karena marginnya lebih tinggi ketimbang bisnis BBM.


"Pembangunan komplek industri Petrokimia akan lebih menjamin keberlanjutan bisnis perusahaan karena sesuai dengan tren bisnis masa depan," kata Nicke.

Terlebih, pembangunan industri petrokimia akan lebih efisien karena terintegrasi langsung dengan kilang. Nicke menyebut produk sampingan petrokimia bisa dimanfaatkan kembali oleh kilang untuk bahan bakar kilang.

"Infrastruktur penunjang dan utilitas dapat juga dimanfaatkan secara bersama-sama dengan menurunkan biaya energi hingga 10 persen dan biaya personel turun 10 persen, sehingga biaya operasional turun sampai 15 persen," jelas dia. (aud/chs)