Trada Alam, Emiten Tambang di Lingkaran Dosa Jiwasraya

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 08:15 WIB
Trada Alam, Emiten Tambang di Lingkaran Dosa Jiwasraya Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk menjadi tersangka dalam kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero). (ANTARA FOTO/Anita Permata Dewi).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Trada Alam Minera Tbk mendapat sorotan setelah Presiden Komisaris atau Komisaris Utama Heru Hidayat ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Perusahaan tambang batu bara tersebut diduga menjadi alat rekayasa transaksi saham yang diinisiasi Heru Hidayat.

Seperti apa bisnis Trada Alam?

Perusahaan bersulih nama dari PT Trada Maritime Tbk menjadi Trada Alam Minera. Semula, perusahaan mengelola bisnis angkutan pelayaran laut. Kini, perusahaan bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Transformasi bisnis tersebut dilakukan setelah Trada Alam mengakuisisi PT Gunung Bara Utama (GBU) dan PT Ricobana Abadi, yang merupakan perusahaan tambang batu bara.

Perusahaan berdiri pertama kali pada 26 Agustus 1998. Namun, baru pada September 2000, perusahaan memulai operasionalnya secara komersial.

Perusahaan dipimpin oleh tujuh direktur, di bawah kepemimpinan Heru Hidayat. Yakni, Alfian Pramana selaku Komisaris, Bambang Setiawan selaku Komisaris Independen.

Direktur utama diduduki oleh Soebiyanto Hidayat, sedangkan dua posisi direktur dipegang oleh Ismail beserta Gani Bustan, serta Irwandy Arif sebagai direktur independen.

Pada Agustus 2019, Trada Alam mengumumkan penandatanganan perjanjian pinjaman sebesar US$100juta dengan besaran bunga 12,5 persen per tahun dengan PT Inti Pancar Dinamika. Pinjaman ini tercatat jatuh tempo sepuluh tahun setelah pencairan transaksi.

Trada Alam, sebelumnya pada 5 Juli 2019, juga pernah mengajukan pinjaman sebesar US$100 juta dengan Adaro Capital Limited. Pinjaman ini juga memiliki bunga 12,5 persen per tahun yang akan jatuh tempo 4 tahun setelah pencairan transaksi.

Sementara pada laporan keuangan konsolidasi untuk kuartal III 2019 tercatat total aset sebesar Rp9,17 triliun dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp8,23 triliun.

Untuk liabilitas tercatat sebesar Rp3,9 triliun atau naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp2,92 triliun. Meski asetnya lebih besar dari liabilitasnya, perseroan tetap mencatat rugi sebesar Rp29,44 miliar, berbanding terbalik dengan periode sebelumnya yang laba Rp89 miliar.
[Gambas:Video CNN]


(wel/bir)