Perusahaan-perusahaan nonbank yang dimaksud adalah lembaga keuangan bukan bank, seperti asuransi dan perusahaan pembiayaan (multifinance).
Hal ini diungkap Moody's dalam laporan bertajuk Asia-Pacific Credit Trends Fourth Quarter 2019 Negative Credit Trend to Continue in 2020. Berdasarkan laporan tersebut, penurunan kinerja korporasi nonbank sejatinya sudah terjadi sejak tahun lalu dan masih berlanjut pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentimen itu tetap ada, meski AS-China telah menandatangani kesepakatan dagang fase pertama yang menandakan ada niat perdamaian antar kedua negara pada 15 Januari 2020 lalu.
Faktor lain, lanjut dia, berasal dari potensi perlambatan ekonomi yang kembali muncul pada tahun ini. Bahkan, Moody's melihat laju ekonomi kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia masih redup pada tahun ini.
"Pertumbuhan ekonomi global akan tetap loyo, dengan pertumbuhan di AS dan China melambat masing-masing menjadi 1,7 persen dan 5,8 persen pada tahun 2020," tutur Lau.
Tak ketinggalan, ada pula sentimen pelemahan ekonomi global dari tingginya tensi perselisihan geopolitik pada tahun ini. Salah satunya, ketegangan AS-Iran yang menjadi pembuka tahun ini.
"Bank sentral utama perlu mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk menyediakan likuiditas jangka pendek, mendukung pertumbuhan serta stabilitas kredit dan pasar keuangan," ungkapnya.
[Gambas:Video CNN]
China, India, Jepang Paling 'Keok'
Berdasarkan catatan Moody's, pelemahan kinerja perusahaan nonbank didominasi dari China, India, dan Jepang pada kuartaal III 2019. Bahkan, sumbangan perusahaan dari ketiga negara mencapai 60 persen dari daftar perusahaan yang berstatus negatif.
Tercatat setidaknya ada 128 perusahaan di Asia Pasifik yang berstatus kinerja negatif pada kuartal III 2019. Sementara yang positif hanya 48 perusahaan.
Dari 128 perusahaan yang berstatus negatif, setidaknya ada 38 perusahaan dari China, 24 perusahaan dari India, dan 21 perusahaan dari Jepang.
"Untuk korporasi Asia dan Jepang pada khususnya, pangsa peringkat dengan implikasi negatif meningkat masing-masing menjadi 19 persen dan 24 persen," jelasnya.
Menurut catatan Moody's, perusahaan nonbank yang berstatus paling negatif berasal dari sektor otomotif. Sebab, mereka menguasai setidaknya 41 persen dari total daftar perusahaan nonbank yang berstatus negatif.
"Perusahaan otomotif melemah karena permintaan global yang lesu di tengah pelemahan ekonomi pertumbuhan di pasar utama, sementara regulasi emisi dan investasi dalam teknologi baru semakin berdampak pada hasil keuangan dan kualitas kredit pembuat mobil," tandasnya. (uli/bir)