Moody's Ramal Industri Non-Bank Lesu pada 2020

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 13:17 WIB
Moody's memproyeksi kinerja perusahaan-perusahaan nonbank akan melemah pada tahun ini. Moody's memproyeksi kinerja perusahaan-perusahaan nonbank akan melemah pada tahun ini. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investor Service memproyeksi kinerja perusahaan-perusahaan nonbank akan melemah pada tahun ini, terutama pelaku usaha nonbank di Asia Pasifik. Alasannya, sentimen perang dagang AS dan China yang berlanjut.

Perusahaan-perusahaan nonbank yang dimaksud adalah lembaga keuangan bukan bank, seperti asuransi dan perusahaan pembiayaan (multifinance).

Hal ini diungkap Moody's dalam laporan bertajuk Asia-Pacific Credit Trends Fourth Quarter 2019 Negative Credit Trend to Continue in 2020. Berdasarkan laporan tersebut, penurunan kinerja korporasi nonbank sejatinya sudah terjadi sejak tahun lalu dan masih berlanjut pada tahun ini.


Wakil Presiden Senior dari Grup Kredit Moody's Clara Lau mengatakan lemahnya kinerja industri nonbank terjadi karena hubungan dagang AS-China masih memberikan ketidakpastian terhadap kebijakan perdagangan internasional.

Sentimen itu tetap ada, meski AS-China telah menandatangani kesepakatan dagang fase pertama yang menandakan ada niat perdamaian antar kedua negara pada 15 Januari 2020 lalu.

"Meski positif, perjanjian perdagangan AS-China fase pertama tak akan menyelesaikan perbedaan inti antara kedua negara, khususnya pada kompetisi teknologi masa depan. Ketidakpastian kebijakan akan tetap ada, meredam sentimen bisnis dan investasi, dan secara negatif mempengaruhi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas korporat," katanya, seperti dikutip Jumat (17/1).

Faktor lain, lanjut dia, berasal dari potensi perlambatan ekonomi yang kembali muncul pada tahun ini. Bahkan, Moody's melihat laju ekonomi kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia masih redup pada tahun ini.

"Pertumbuhan ekonomi global akan tetap loyo, dengan pertumbuhan di AS dan China melambat masing-masing menjadi 1,7 persen dan 5,8 persen pada tahun 2020," tutur Lau.

Tak ketinggalan, ada pula sentimen pelemahan ekonomi global dari tingginya tensi perselisihan geopolitik pada tahun ini. Salah satunya, ketegangan AS-Iran yang menjadi pembuka tahun ini.

Atas proyeksi ini, Moody's melihat bank sentral di dunia perlu melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif dalam mendukung likuiditas jangka pendek para korporasi nonbank. Khususnya, bank sentral AS, The Federal Reserve, bank sentral Eropa, European Central Bank, dan bank sentral Jepang, Bank of Japan.

"Bank sentral utama perlu mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk menyediakan likuiditas jangka pendek, mendukung pertumbuhan serta stabilitas kredit dan pasar keuangan," ungkapnya.
[Gambas:Video CNN]
China, India, Jepang Paling 'Keok'

Berdasarkan catatan Moody's, pelemahan kinerja perusahaan nonbank didominasi dari China, India, dan Jepang pada kuartaal III 2019. Bahkan, sumbangan perusahaan dari ketiga negara mencapai 60 persen dari daftar perusahaan yang berstatus negatif.

Tercatat setidaknya ada 128 perusahaan di Asia Pasifik yang berstatus kinerja negatif pada kuartal III 2019. Sementara yang positif hanya 48 perusahaan.

Dari 128 perusahaan yang berstatus negatif, setidaknya ada 38 perusahaan dari China, 24 perusahaan dari India, dan 21 perusahaan dari Jepang.

Sementara secara keseluruhan, perusahaan nonbank berstatus negatif-1 naik dari 10 persen pada 2018 menjadi 17 persen pada 2019. Sementara, perusahaan berstatus stabil turun dari 85 persen menjadi 79 persen pada periode yang sama.

"Untuk korporasi Asia dan Jepang pada khususnya, pangsa peringkat dengan implikasi negatif meningkat masing-masing menjadi 19 persen dan 24 persen," jelasnya.

Menurut catatan Moody's, perusahaan nonbank yang berstatus paling negatif berasal dari sektor otomotif. Sebab, mereka menguasai setidaknya 41 persen dari total daftar perusahaan nonbank yang berstatus negatif.

"Perusahaan otomotif melemah karena permintaan global yang lesu di tengah pelemahan ekonomi pertumbuhan di pasar utama, sementara regulasi emisi dan investasi dalam teknologi baru semakin berdampak pada hasil keuangan dan kualitas kredit pembuat mobil," tandasnya. (uli/bir)