Ketua Pinsar Pedaging Jawa Tengah Parjuni mengatakan kebijakan yang merugikan tersebut berkaitan dengan pengurangan bibit ayam. Ia menjelaskan saat harga ayam turun pada 2019 lalu, pihaknya sudah meminta Kementerian Pertanian untuk mengurangi pasokan bibit ayam ke lapangan.
Pengurangan diminta karena pasokan ayam di pasar akibat kelebihan bibit berlebih sehingga harga ayam tertekan dan merugikan peternak. Saat itu, Parjuni menyatakan Kementerian Pertanian sudah menyepakati untuk menurunkan pasokan bibit ayam sebanyak 7 juta ekor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parjuni mengatakan akibat kebijakan Kementerian Pertanian yang tidak konsisten tersebut, pasokan ayam di pasar melimpah. Kondisi tersebut membuat harga ayam hidup lepas kandang terjun bebas ke bawah harga pokok produksi.
Data yang dimilikinya, saat ini harga ayam hidup lepas kandang berada di kisaran Rp13.500-Rp14.500 per kg. Sedangkan harga pokok produksi mencapai Rp17.500-Rp18 ribu per kg.
Penurunan harga tersebut membuat peternak ayam merugi sampai dengan Rp200 juta per bulan. Kerugian sudah ditanggung peternak selama 17 bulan belakangan ini
Ia berharap, pemerintah bisa segera mencari jalan agar kondisi tersebut tidak berlangsung terus.
Sementara itu Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita yang mencoba dikonfirmasi CNNIndonesia atas masalah tersebut menyatakan bahwa ia sedang sakit dan belum bisa memberikan penjelasannya.
[Gambas:Video CNN] (agt)