BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Acuan pada 2020

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 17:45 WIB
BI Buka Peluang Pangkas Suku Bunga Acuan pada 2020 Bank Indonesia membuka peluang untuk memangkas suku bunga acuan pada 2020. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyatakan ruang penurunan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) masih terbuka sepanjang tahun ini. Namun, bank sentral belum bisa memastikan apakah kebijakan penurunan suku bunga acuan akan kembali dilakukan dalam waktu dekat.

"Kalau ditanya ada ruang penurunan suku bunga acuan? Iya. Tapi apakah akan kami gunakan? Tunggu dulu. Kami akan update terus," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (23/1).

Menurut Perry, bank sentral nasional perlu terus mengikuti perkembangan ekonomi global dan nasional dalam menentukan keputusan ini. Meski begitu, ia menekankan BI akan terus berusaha mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akomodatif guna menstimulus laju ekonomi domestik.


Kebijakan akomodatif itu sejatinya tidak hanya berupa kebijakan moneter dengan penurunan tingkat suku bunga acuan. Sebab, BI bisa pula memberi stimulus melalui kebijakan makroprudensial.

"Kebijakannya tidak hanya suku bunga, bisa injeksi (likuiditas ke bank), dan operasi moneter. Apa yang cocok? Kami akan pantau perkembangannya. Mungkin yang lebih cocok (dalam waktu dekat) likuiditas," tuturnya.

Sebelumnya, BI sudah empat kali menurunkan tingkat suku bunga acuan pada 2019. Penurunan dilakukan pada Juli, Agustus, September, dan Oktober dengan besaran masing-masing 25 basis poin (bps).

Dengan empat kali penurunan itu, BI 7DRR kini berada di tingkat 5 persen. Sementara tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing di 4,25 persen dan 5,75 persen.

Sementara pada Januari 2020, BI kembali menahan tingkat suku bunga acuan di 5 persen. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan nasional.

[Gambas:Video CNN]

Perry mengatakan keputusan ini dipengaruhi oleh prospek pemulihan ekonomi global yang mampu menurunkan ketidakpastian. Pemulihan didukung oleh pertumbuhan ekonomi dari beberapa negara dan prospek positif di industri manufaktur di dunia.

"Ditopang pula oleh perkembangan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China," ucapnya.

Pemulihan tersebut membuat aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini turut memberi sentimen positif bagi laju pertumbuhan ekonomi nasional.

(uli/sfr)