BI Taksir Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020

CNN Indonesia | Jumat, 24/01/2020 15:50 WIB
BI Taksir Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020 Bank Indonesia memperkirakan inflasi mencapai 0,42 persen pada Januari 2020. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi mencapai 0,42 persen month to month (mtm) pada Januari 2020. Proyeksi itu lebih tinggi dari realisasi inflasi Januari 2018 sebesar 0,32 persen.

Secara tahunan, inflasi pada bulan pertama tahun ini diperkirakan sebesar 2,82 persen year on year (yoy).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan perhitungan tersebut berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan hingga pekan keempat Januari.


"Berdasarkan survei pemantauan harga hingga minggu keempat Januari, Bank Indonesia memperkirakan inflasinya 0,42 persen month to month. Kalau secara tahunan adalah 2,82 persen," kata Perry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (24/1).

Berdasarkan paparan Perry, angka tersebut lebih rendah dari rata-rata inflasi 5 tahun terakhir sebesar 0,64 persen.

Menurut Perry, inflasi tersebut disebabkan oleh lonjakan harga pangan yang dipicu oleh musim hujan. Beberapa harga pangan yang melonjak di antaranya cabai merah, cabai rawit, hingga beras berkontribusi besar terhadap inflasi.

"Karena ada musim hujan, berpengaruh kepada panen sejumlah barang. Terutama penyumbang inflasi itu adalah cabai merah, cabe rawit, bawang merah, beras, dan beberapa sayuran karena pengaruh cuaca ini," jelasnya.

Di sisi lain, Perry menyebutkan beberapa barang menyumbang nilai deflasi yakni tiket angkutan udara, bensin dan ayam.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, Perry menilai proyeksi inflasi tersebut lebih rendah dari perkiraan. Pasalnya, nilai tersebut masih di bawah sasaran target inflasi tahun ini yang berada di sekitar 3 persen.

"Inflasi yang 0,42 persen di month to month ini lebih rendah (dari) perkiraan kami. Itu mengkonfirmasi bahwa inflasi tahun ini di sekitar sasaran. Ingat, sasaran inflasi tahun ini lebih 3 persen, plus minus 1 persen," pungkasnya.

(ara/sfr)