Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pemerintah memang membutuhkan keterlibatan swasta. Pasalnya untuk mencapai rasio elektrifikasi 100 persen, anggaran yang dibutuhkan cukup besar.
Berdasarkan perhitungan dari beberapa wilayah yang belum dialirkan listrik, Rida mengaku pemerintah membutuhkan dana investasi sebesar Rp11 triliun pada 2020 ini. Dana tersebut hanya mampu dipenuhi PLN Rp2,1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai saat ini subsidi ini belum bisa dikasih selain ke (Perusahaan) BUMN. Makanya, ini perlu ngobrol sama (Kementerian) keuangan. Misalnya, ada swasta mau dan perlu disubsidi. Maka, mekanismenya bagaimana supaya mereka terima," jelasnya.
Ia menjelaskan, Kementerian ESDM sendiri kini tengah membahas permasalahan tersebut dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Rida mengatakan solusi dari hasil pembahasan tersebut bakal muncul di semester satu tahun ini.
[Gambas:Video CNN]
"Semester ini semoga bisa dapat solusinya. Bisa pakai cara untuk kerjasama dengan PLN dan swasta untuk menyelesaikan ini," ujarnya.
Di sisi lain, Rida mengungkap salah satu kendala yang selama ini menahan kemajuan program. Ia mengaku, kesesuaian data masih menjadi kendala utama. Rida menyatakan bahwa pihaknya masih sulit dalam menetapkan wilayah-wilayah yang masih membutuhkan akses listrik secara mendetail dan akurat.
Untuk mendapatkan data tersebut, Rida pun menyebut pihaknya sudah menyurati seluruh Gubernur agar dapat memberikan data-data dari daerah terkait kebutuhan elektrifikasi sejak 2018 lalu.
Namun, ia mengaku hanya sebanyak 17 provinsi yang baru memberikan data tersebut hingga sekarang.
Sayangnya, Ridan enggan menyebutkan provinsi mana saja yang baru mengirimkan data tersebut.
Diketahui, rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia saat ini telah mencapai 98,6 persen, sementara 2 persen sisanya merupakan wilayah yang berada di daerah 3 T.
(ara/agt)