Menhub Setor Rumus Diskon Tiket Pesawat ke Jokowi Pekan Depan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 16:45 WIB
Menhub Setor Rumus Diskon Tiket Pesawat ke Jokowi Pekan Depan Menhub Budi Karya mengungkap segera melaporkan rumusan insentif tiket pesawat kepada Presiden Jokowi. (CNN Indonesia/Ilham Rahmanda Dony)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melaporkan rumusan insentif penerbangan untuk maskapai kepada Presiden Joko Widodo pekan depan menyusul lesunya penerbangan karena terdampak Virus Corona.

"Akhir minggu ini atau awal minggu depan difinalkan, baru kami laporkan ke Presiden," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kamis (13/2) seperti dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan saat ini pihaknya akan membahas terlebih dahulu dengan Kementerian Keuangan, salah satunya untuk pengurangan kewajiban penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang akan digunakan sebagai salah satu insentif untuk maskapai.


"Karena yang punya kewenangan untuk menetapkan dikurangi atau ditiadakan itu Kementerian Keuangan," katanya.

Budi menyebutkan besaran PNBP yang harus dibayarkan saat pesawat itu mendarat, yakni Rp60 juta. Selain itu, tambah dia, juga diusulkan untuk biaya mendarat (landing fee) atau pajak bandara (airpot tax) yang dikenakan langsung kepada penumpang melalui harga tiket.

Ia juga telah membahas dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan bertemu dengan seluruh operator penerbangan dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Keduanya juga sepakat agar memberikan insentif atau membuat suatu paket wisata antara maskapai dan hotel untuk membangkitkan lagi gairah wisata dan penerbangan yang tengah lesu.

Pasalnya, Budi menyebutkan penerbangan berkurang, terutama dari dan ke China sebesar 30 persen karena dampak Virus Corona.

"Rata-rata segitu, tapi yang ke Jepang, Amerika, Korea enggak masalah," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyebutkan potensi kerugian di sektor pariwisata akibat serangan Virus Corona mencapai US$2,8 miliar atau Rp38,2 triliun.

"Karena ini kan masih bergerak ya, kami bisa tahu ruginya berapa kalau Virus Corona udah berhenti. Kalau kami average (rata-rata) setahun dari China saja dengan dua juta jumlah wisatawan kan sudah US$2,8 miliar kerugian misalnya," kata Wishnutama.

Angka tersebut, lanjut dia, jika dihitung dari kunjungan jumlah wisatawan Tiongkok ke Indonesia selama satu tahun di mana rata-rata mencapai dua juta wisman.

[Gambas:Video CNN]


(age/sfr)