HSBC Bakal PHK 35 Ribu Karyawan

CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 06:55 WIB
HSBC Bakal PHK 35 Ribu Karyawan HSBC akan merumahkan (PHK) 35 ribu karyawannya di seluruh dunia dalam 3 tahun ke depan karena laba rontok. (AFP/Omar Torres).
Jakarta, CNN Indonesia -- HSBC akan merombak bisnis perusahaan besar-besaran. Perombakan yang dilakukan termasuk menempuh langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 35 ribu karyawannya dalam tiga tahun ke depan.

Langkah tersebut diambil karena laba perusahaan merosot 33 persen pada 2019 lalu. Dilansir dari CNN, Selasa (18/2), jumlah karyawan yang di-PHK sudah mencapai 15 persen dari target 35 ribu karyawan.

Pada Agustus lalu, HSBC juga memangkas 4.700 pekerjanya, yang sebagian besar merupakan pekerja senior.


Merosotnya bisnis HSBC sebagian disebabkan oleh penurunan suku bunga, pemberian pinjaman yang tak menguntungkan, demo berkelanjutan di Hong Kong dan penyebaran virus corona dari Wuhan, Hubei, China.

Penyebaran virus corona ini cukup mengganggu karyawan, supplier, dan nasabah mereka yang berada di China dan Hong Kong. Hal tersebut disebut telah memengaruhi kinerja perusahaan pada tahun ini.

Selain memangkas jumlah karyawannya, HSBC berencana memotong US$100 miliar aset mereka pada akhir 2022 mendatang. Perusahaan berharap, keputusan ini dapat mengurangi kerugian hingga US$4,5 miliar.

Rencana perombakan bisnis global juga termasuk mengurangi cabang perusahaan mereka, terutama di negara-negara yang tidak memberikan keuntungan, antara lain, Eropa dan AS.

Laba sebelum pajak HSBC di AS turun dari US$20 miliar pada 2018 menjadi US$ 13,3 miliar pada 2019. Akibat kerugian tersebut, HSBC mengatakan akan menutup sepertiga cabangnya di AS.

"Sekitar 30 persen dari modal kami saat ini dialokasikan untuk bisnis yang memberikan laba di bawah biaya ekuitas mereka, sebagian besar di perbankan dan pasar global di Eropa dan AS," kata CEO sementara HSBC Noel Quinn dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip CNN, Selasa (18/2).

Kemudian, perusahaan akan lebih fokus pada pasar perbankan di negara-negara berkembang yang ada di Asia dan Timur Tengah. Quinn mengungkapkan pemberian pinjaman yang menguntungkan sebagian besar berasal dari Asia.

"Karena itu kami merombak rencana bisnis demi meningkatkan biaya ekuitas, menciptakan kapasitas untuk investasi di masa depan, dan membangun platform untuk pertumbuhan berkelanjutan," ungkap Quinn.

[Gambas:Video CNN]


(ang/bir)