"Selama ini, kami mengarang bebas dengan Indonesia kaya, punya penduduk 270 juta, tapi begitu ditanya tambangnya di mana, izinnya di mana, enggak punya (data) kami," ungkap Bahlil di acara Peresmian Rakornas Investasi 2020, Jakarta, Kamis (20/2).
Selain itu, ia menyebut promosi investasi Indonesia selama ini juga tidak dilengkapi oleh peta-peta identifikasi ataupun inventarisasi sumber daya alam yang bakal dipromosikan. Ia mengaku selama ini, sebetulnya pihaknya tidak dapat menyokong data-data tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil mengaku khawatir Indonesia dapat berpotensi menanggung malu apabila tidak dapat menyediakan kelengkapan data dari promosi investasi yang diberikan kepada pihak swasta tidak memiliki kelengkapan pemetaan.
Selain itu, Bahlil mengatakan akan lebih mudah bagi Indonesia untuk mempromosikan Investasi apabila investor melihat kelengkapan data dari proposal yang ditawarkan.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat mengingatkan Bahlil soal target investasi 2019 yang gagal tercapai.
Diketahui, sepanjang 2019, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan indikator pertumbuhan investasi hanya tumbuh 4,45 persen. Angka itu jauh lebih rendah dari realisasi 2018 sebesar 6,64 persen.
"Pertumbuhan investasi, yang mana pak Bahlil harus bekerja keras, sangat rendah. Di kuartal IV 2019 investasi hanya tumbuh 4,06 persen. Angka ini jauh lebih rendah dari ekspektasi kami dimana investasi diharapkan tumbuh di atas 6 persen," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(ara/bir)