Bappenas Sebut RI Telat Keluar dari Jebakan Kelas Menengah

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 21:27 WIB
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut RI telat 6 tahun untuk keluar dari jebakan kelas menengah. Bappenas menyebut Indonesia telat 6 tahun untuk keluar dari jebakan kelas menengah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut Indonesia terlambat 6 tahun untuk keluar dari middle income trap atau jebakan kelas menengah. Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut seharusnya Indonesia sudah keluar dari jebakan tersebut pada 2030.

Tapi, pemerintah hanya bisa menargetkan  Indonesia terlepas dari jebakan kelas menengah pada 2036.

"Kami membutuhkan 34 tahun untuk lepas dari middle income trap. Seharusnya 2030, terlambat 6 tahun," ungkapnya di Jakarta, Senin (24/2).


Sebagai informasi, untuk mencapai negara yang lepas dari jebakan kelas menengah kemudian menjadi maju ada syarat yang harus dipenuhi Indonesia. Salah satunya, pendapatan per kapita.

Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu mencapai pendapatan per kapita sebesar US$12ribu per tahun. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran US$4.546 per tahun.

Dalam RPJMN 2020-2024 yang bertema Indonesia Maju, ditargetkan pendapatan per kapita Indonesia sebesar US$6.305 per tahun pada 2025. Per 2030 ditargetkan pendapatan per kapita dapat mencapai US$8.804 per tahun.

Baru pada 2035, pemerintah menargetkan pendapatan per kapita Indonesia dapat berada di kisaran US$12.233 per tahunnya.

Bank Dunia dalam hasil studinya menyebut salah satu faktor yang membuat Indonesia terlambat  keluar dari jebakan kelas menengah adalah investasi pada penelitian dan pengembangan atau R&D. Tercatat, Indonesia hanya menginvestasikan 0,1 persen dari PDB untuk keperluan penelitian dan pengembangan.

Alokasi tersebut jauh dibandingkan dengan Korea Selatan yang berhasil keluar dari jebakan kelas menengah. Pasalnya, Negeri Gingseng tersebut menngalokasikan pendanaan 4,4 persen untuk R&D.

[Gambas:Video CNN]


(wel/agt)