Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti menyatakan hilangnya fasilitas itu membuat Indonesia tidak lagi mendapatkan pembiayaan alias kredit dari eksternal untuk pembangunan sosial, dan ekonomi di dalam negeri.
"Keberhasilan pembangunan di Indonesia sudah membuat Indonesia naik kelas sejak 2004 lalu menjadi middle income country, sehingga tidak lagi mendapatkan fasilitas pinjaman ODA," ungkap Nufransa kepada CNNINdonesia.com, Selasa (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan sumber pembiayaan yang market base, Indonesia memperoleh lebih banyak ketersediaan dana dan pilihan instrumen serta lebih fleksibel dibandingkan yang bersumber dari pinjaman," kata Nufransa.
Namun, dari berbagai dokumen yang didapatkan CNNIndonesia.com, Indonesia terlihat masih mendapatkan fasilitas ODA dari beberapa negara, seperti Australia dan Jepang.
Kemudian, Australia juga menganggarkan biaya sebesar AUD$331,3 juta sebagai fasilitas ODA ke Indonesia pada 2019-2019 dan alokasi 2019-2020 sebesar AUD$298,5 juta.
Pembiayaan itu diberikan untuk pembangunan di beberapa sektor, seperti infrastruktur dan perdagangan, pendidikan, agrikultur, kesehatan, dan ketahanan di Indonesia.
Sementara, Jepang memberikan pinjaman ke Indonesia mencapai 49,36 miliar yen sepanjang 2012-2016. Kemudian, Jepang juga mengucurkan bantuan untuk Indonesia sebesar 2,78 miliar yen pada 2012-2016.
Informasi saja, Indonesia baru saja dicoret dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat (AS) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyatakan hal itu akan membuat Indonesia kehilangan fasilitas sebagai negara berkembang, seperti ODA.
"Bicara mengenai utang, maka Indonesia tidak dapat lagi klasifikasi ODA karena dengan itu kita akan mampu mendapatkan bunga yang murah. Kalau di bawah US$4.000 bisa dapat 0,25 persen," katanya.
Nantinya, penghilangan fasilitas ini akan berdampak pada perdagangan karena Indonesia akan menjadi subjek pengenaan tarif lebih tinggi.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)