Orang tersebut ditempatkan sebagai siasat untuk memastikan kelanjutan bisnis mereka.
"Banyak teman-teman swasta mengakali taruh orang di dalam supaya bisnisnya (jalan) terus," kata Erick di acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2020, Rabu (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengimbau pihak swasta tidak menyalahgunakan siasat tersebut dengan cara 'menggerogoti' BUMN. Pasalnya, masyarakat bisa rugi Rp476 jika swasta melakukan hal tersebut kepada BUMN.
Sayangnya, Erick tidak menjelaskan lebih jelas maksud dari kata 'menggerogoti' dan perhitungan kerugian yang disebutkannya itu. Ia juga tak menyebut siapa swasta yang menggerogoti BUMN tersebut.
Hanya saja, ia menegaskan untuk tak segan mencopot direksi BUMN apabila terbukti 'menggerogoti' BUMN.
"Jangan dibalik business as usual BUMN digerogoti dan bangkrut. Direksi yang mau menggerogoti BUMN saya copot," tegasnya.
Lebih lanjut, Erick menyebut pihaknya tak akan menutup kerja sama dengan swasta. Ia meminta pihak swasta untuk melakukan kerja sama dengan BUMN secara baik dan benar untuk memajukan negara.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan BUMN dan perusahaan swasta ikut mendanai kegiatan riset dalam mengembangkan produk teknologi unggulan di dalam negeri.
Jokowi bilang pendanaan untuk riset pengembangan produk teknologi tak akan cukup bila hanya berasal dari kantong negara alias Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Makanya, perlu bantuan dari perusahaan pelat merah dan sektor swasta.
"Pengembangan teknologi unggulan perlu mendapatkan dukungan pendanaan riset yang memadai sehingga tidak setengah-setengah. Anggaran riset bukan hanya bersumber dari APBN, tapi juga perlu dorongan pendanaan riset dari BUMN maupun sektor swasta," papar Jokowi, Kamis (6/2) lalu.
[Gambas:Video CNN]
(ara/age)