TOP TALKS

Bahlil Lahadalia, Anak Ndeso Jadi Pembantu Jokowi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 04/03/2020 09:22 WIB
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meniti karir mulai dari sopir angkot hingga pengusaha sebelum membantu Presiden Jokowi. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meniti karir mulai dari sopir angkot hingga pengusaha sebelum membantu Presiden Jokowi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Bagaimana perjalanan hidup Anda hingga menduduki jabatan sebagai kepala BKPM?

Saya memang berangkat dari keluarga yang sangat sederhana. Ayah saya sekali lagi dia buruh bangunan dan ibu saya pembantu rumah tangga, tukang cuci pakaian rumah orang. Jadi kalau kami itu tidak bekerja ya susah. Makan saja susah. Saya sejak kecil sudah bekerja, berjualan kue yang ibu saya buat. Lalu ke kebun memetik sayur, singkong.

Jadi sudah diajari untuk bekerja. Makan saja harus kerja dulu. Tapi itu bukan suatu pilihan yang enak sebenarnya, itu sebagai keterpaksaan, harus diakui. Tapi saya tidak pernah menyesali itu. Saat SD dan SMP pun saya kondektur angkot, kemudian pernah berjualan ikan di pasar, jual bawang. Apa saja saya kerjakan.

Bagaimana akhirnya bisa sampai kuliah di Jayapura?

Saya dulu kuliah daftarnya di universitas swasta. Ini karena saya tiba di Jayapura ketika pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah selesai.


Jadi pendaftaran Universitas Cendrawasih (Uncen) sudah tutup. Saat S2 saya baru bisa di Uncen. Pas tiba di Jayapura itu uang saya hanya Rp600 ribu, sementara daftar kuliah Rp800 ribu. Lalu karena uang cuma Rp600ribu, jadinya saya mencicil, bayar Rp500 ribu dulu, Rp100 ribu untuk makan dan untuk fotocopy persyaratan sambil saya mencari uang untuk bayar sisanya.

Untuk menutup sisanya saya kerja buruh, jual koran, supir angkot, dorong gerobak. Apa saja kami lakukan yang penting bisa dapat uang. Prinsip saya satu, tidak mau menipu orang tidak mau ambil hak orang.


Bagaimana kehidupan Anda saat kuliah? Apa benar Anda menjadi seorang aktivis selama duduk di bangku kuliah?


Saya kuliahnya tujuh tahun dan saya alhamdulillah pernah jadi sekretaris senat, ketua senat, pernah juga ikut demo dan ditahan sama polisi. Kemudian saya pernah ikut HMI, organisasi ekstra kampus. Jadi sebagian besar waktu saya di kampus itu selesai dengan dunia aktivis, dikejar-kejar sama polisi hingga ditangkap. 

Tapi ini dalam konteks dinamika aktivis ya karena waktu itu tahun 1998. Kemudian pada 1999-2000 itu kan puncak-puncaknya di Papua tentang gerakan keinginan untuk memisahkan diri itu kan.

Jadi bagi saya organisasi pergerakan aktivis itu bagian yang tak terpisahkan dari hidup dan saya menikmati itu. Saya tidak pernah menyesali hal itu.

Aktivis itu di samping cerdas harus punya nyali. Kalau tidak punya nyali tidak bisa jadi aktivis. Kemudian juga harus punya fighting spirit, punya komitmen pribadi, punya intregitas agar bisa disegani oleh orang yang dipimpin. Saya rela untuk ditangkap dan dulu ketika ditangkap kami bangga. Rasanya keren kalau saya pimpin demo puluhan ribu orang dan setelah itu ditangkap sama polisi. Wah jadi tokoh betul.

Lalu apa yang Anda kerjakan setelah lulus kuliah?


Itu saya jadi karyawan dulu. Jadi lulus D3, terus saya stop enam bulan dan kerja di bank. Saya pulang ke Fakfak waktu itu, kerja di bank Papua dulu. Tidak lama saya mengundurkan diri dari bank karena saya bangun jam 7 pagi ke kantor, pakai dasi. Tapi selama enam bulan pekerjaan saya itu hanya untuk mengelem bukti transaksi. 

Waduh saya bilang kok ketua senat kerja yang seperti ini. Makanya saya mengundurkan diri lalu kembali lagi melanjutkan S1 saya dan setelah lulus saya bekerja di satu perusahaan. Salah satu perusahaan itu menggaji saya Rp35 juta per bulan, dikasih rumah, dan mobil.

Tapi setelah satu tahun atau hampir dua tahun, saya mengundurkan diri dan kemudian membuat perusahaan sendiri.

Membuat perusahaan itu tidak mudah ya, tidak semudah yang orang pikirkan. Lewat perjuangan. Apalagi saya kan bukan anak siapa-siapa. Stigma orang menjadi pengusaha itu kan minimal kalau bukan anak pejabat ya anak orang kaya.

Tapi Allah ternyata menghendaki. Atas petunjuk Allah, ridho, dan doa orang tua. Lalu juga atas kerja keras alhamdulillah saya bisa seperti sekarang.


Kenapa Anda keluar dari perusahaan yang menggaji Rp35 juta?


Jadi pertama kan kerja di bank, setelah itu membangun perusahaan konsultan keuangan dengan teman-teman di Jakarta. Pada tahun kedua saya mengundurkan diri. Saya membangun perusahaan di sektor yang berbeda, yaitu perdagangan kayu.

Tapi saat itu sempat jatuh juga. Saya pernah tidak bisa bayar karyawan enam bulan, lalu harus kembali pakai motor dan ojek lagi. Tapi alhamdulillah bisa bangkit. Menurut saya jatuh bangun seorang pengusaha itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari karena pengusaha yang hebat itu pengusaha yang dari bawah naik ke atas, jatuh lagi, bangun lagi. Jadi judulnya jatuh bangun.

Saat keluar dari pekerjaan yang menggaji Rp35 juta itu hampir semua orang mengatakan saya, kamu gila. Kamu tidak sayang dengan pekerjaan itu. Saya katakan kepada mereka bahwa saya suka tantangan.

Apa yang membuat Anda tetap semangat ketika perusahaan sempat jatuh?


Semangat hidup saja, karena cara berpikirnya begini bahwa yang bisa menyelamatkan hidup kita ya hidup kita sendiri. Bukan orang tua bukan keluarga. Jadi kalau kita tidak percaya dengan kemampuan sendiri bagaimana mungkin orang mau percaya dengan kita. Jadi, sekali pun saya hidup tertatih-tatih. Saya percaya yang bisa menyelamatkan hidup saya, ya saya sendiri.

Menurut saya penderitaan itu tidak perlu saya sesali. Saya hidupnya dari lahir sudah menderita. Jadi ketika jatuh tidak kaget lagi. Ibarat gini loh kemiskinan yang paling miskin sudah pernah saya rasa, busung lapar sudah. 


Apa cita-cita Anda?


Dulu tuh cita-cita saya jadi tentara. Waktu saya jadi kondektur angkot di terminal itu cita-cita saya ingin jadi tentara gara-gara dipukul polisi. Jadi dendamnya minta ampun. Tapi seiring waktu berjalan, saya itu masuk kuliah dan hidup susah terus jadi cita-cita saya mau jadi pengusaha saja.

Saya tidak pernah bermimpi untuk duduk di pemerintahan. Kalau kamu tanya saya sekarang duduk di pemerintahan, saya dulu paling tidak suka. Jujur saja.

Tidak suka duduk di pemerintahan apa karena dulu Anda sempat menjadi aktivis yang hobi mendemo pemerintah?


Iya, lihat pejabat ingin saya lempar. Lihat orang pakai mobil voorijder tidak suka. Jadi tidak ada di benak saya itu harus jadi bagian dari pemerintah. Ini juga karma mungkin, makanya sesuatu itu yang kau tidak suka jangan terlalu menunjukkan ketidaksukaan.

Lalu apa perbedaan yang paling Anda rasakan saat ini?


Bedanya begini, dulu saya jadi pengusaha cari uang. Jadi pengusaha itu cari uang, bebas, tidak ada yang mengatur, saya mengatur orang, dan enak. Sekarang saya duduk di pemerintahan saya diatur orang, saya diatur presiden kan. Saya diatur undang-undang. Saya tidak bisa bebas lagi, kerja tidak boleh cari uang, dapat uang ditangkap. Jadi pengabdian ke negara.

Waktu saya semua diatur oleh negara. Perbedaannya di situ, tapi ini pengabdian. Kalau negara ini diurus oleh orang yang salah, diurus oleh orang yang mohon maaf sekali hatinya tidak untuk negara, maka akan menyengsarakan rakyat. Jadi saya merasa inilah pengabdian saya untuk negara dan rakyat.

Bagaimana cara Anda mengatur waktu dengan keluarga?


Istri saya itu kan sama-sama aktivis, jadi dia mengerti. Tapi se ngerti-ngertinya mereka kan mereka juga manusia. Saya ini kan suami dan ayah dari anak-anak saya, di mana hak mereka juga ada pada diri saya. Tapi mereka saya kasih pemahaman bahwa saya bekerja dulu untuk negara. Tolong dipahami. 

Jadi kami bertemunya pada pagi hari saja. Kalau malam hari saya pulang kan sudah tidur mereka. Pagi hari sarapan pagi itu saja, Sabtu dan Minggu saya masuk kantor. Alhamdulillah sampai sekarang dikomunikasikan dengan baik, yang penting kan kepercayaan.

Anak-anak yang sering protes dengan saya, apalagi yang masih kecil ya. Yang SMP kelas 3, kemudian yang SD. Tapi akhirnya mereka paham.


Lalu, apakah Anda masih memiliki waktu untuk diri anda sendiri, misalnya menjalankan hobi?


Hobi saya sudah dipendam. Hobi saya 'kongkow-kongkow' dengan teman-teman. Saya olah raga masih bisa di rumah, renang. Tapi hobi yang diskusi, sudah sulit. Aktivis itu hobinya diskusi. Senang mendengar masukan dari teman-teman, dikritik, mendapatkan pemikiran yang baru. Itu sudah jarang. 

Jadi relatif hobi saya harus saya kuburkan sementara untuk negara. Ya kadang-kadang kalau saya sudah ingin sekali diskusi dengan teman-teman, maka saya undang malam-malam sambil 'ngopi' di kantor atau di rumah. Jadi tidak bisa lagi 'ngopi-ngopi' di luar. 

Dulu kan bisa kami 'ngopi' di mall, sekarang tidak bisa. Berat deh pokoknya, susah diungkapkan dengan kata-kata.

Anda sudah berada di posisi kepala BKPM. Apakah masih ada keinginan atau mimpi yang belum pernah tercapai hingga detik ini?


Hidup saya itu air mengalir loh. Sekali lagi, saya tidak pernah punya cita-cita di kabinet. Tidak ada itu cita-cita saya. Kalau mau tanya cita-cita saya menjadi apa, ya menjadi konglomerat. Saya itu cita-citanya hidup bebas, bermanfaat untuk orang lain, untuk agama, rakyat, bangsa, dan negara. Itu saja. 

Bermanfaat untuk rakyat, bangsa, dan negara itu kan tidak mesti di kabinet. Jadi pengusaha itu banyak menciptakan lapangan pekerjaan. Ada ribuan orang yang kami kasih makan kan, itu kan bagus.

Kalau ditanya apakah ingin jabatan politik lagi, Wallahu A'lam Bishawab. Saya serahkan kepada Allah saja deh. Kita ini kan hanya menjalani hidup, arsitek hidup kan Allah. Tugas kita ber ikhtiar. Ada tiga hal yang tidak diketahui dalam hidup manusia itu, jodoh, ajal, dan rezeki. Itu kuasa Allah, itu hak prerogatif yang Allah punya, yang tidak bisa kita intervensi. 

Anda tak ingin duduk di pemerintahan. Lantas apa yang Anda katakan ketika diminta untuk membantu Pak Jokowi dengan menjadi Kepala BKPM?


Ya saya cuma dipanggil. Diajak diskusi. Cuma saya bilang pak saya kan orang kampung pak, saya kan punya banyak kekurangan. Mungkin dengan segala hormat, pasti banyak yang punya kemampuan lebih. Tapi ya namanya Pak Jokowi kan pemimpin, dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Saya juga tidak pernah mengatakan diri saya baik. Tapi saya hanya mengatakan saya anak kampung pak, ya saya sekolahnya juga di kampung. Saya tidak sehebat orang lain, tapi kalau memang bapak melihat saya bisa bantu bapak ya Insyaallah pak demi ibu pertiwi.

Apalagi Pak Jokowi kan senior saya di Hipmi. Beliau abang saya, senior. Saya junior. Jadi jangankan diminta, tidak diminta akan saya bantu. Saya sejak jadi ketua umum Hipmi sudah bantu beliau. Waktu urusan pemilihan presiden (pilpres), baik diminta maupun tidak diminta saya bantu. Apalagi beliau, ini kan abang sendiri. Jadi bagi saya membantu Pak Jokowi itu seperti membantu kakak sendiri gitu loh. Terlepas beliau presiden, karena kami di Hipmi kan punya doktrin.

Setiap perintah senior dan apapun yang diinginkan senior wajib hukumnya untuk diterjemahkan dan dijalankan oleh junior. Pasal 1 senior tidak pernah bersalah. Pasal 2 apabila senior bersalah maka tinjau pasal 1. Jadi saya juniornya beliau, jadi apapun yang dperintahkan siap. Gitu kira-kira lah dan kita punya loyalitas ke senior tinggi.

Apalagi kabinet itu kan pembantu presiden. Kata lain pembantu apa tahu tidak, budak. Ya kita harus tahu diri saja lah. Kalau kita pembantu ya pembantu. Jangan merasa seperti majikan.


Bisa memimpin organisasi sebesar Hipmi tentu butuh kemampuan kepemimpinan yang kuat. Dari mana Anda belajar kepemimpinan?


Pemimpin itu ada dua, pemimpin yang dilahirkan atau pemimpin yang diciptakan. Kalau pemimpin yang dilahirkan itu seperti turunan raja. Kalau saya tidak ada turunan itu. Kalau saya belajar kepemimpinan itu sejak masih aktivis. Sejak SD kan sudah ketua kelas. SMP ketua organisasi siswa intra sekolah (osis), SMA ketua osis. Lalu di kampus ketua senat. Jadi bagi saya belajar kepemimpinan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya.

Di Hipmi menurut saya dari sekian banyak organisasi yang saya ikuti mau di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mau di remaja masjid, mau di mana saja, Hipmi ini adalah organisasi yang unik.

Unik karena di Hipmi tempat berkumpulnya anak-anak muda yang kaya-kaya dan mapan. Mereka manusia yang susah diatur semua. Makanya saya bilang unik, tapi intelek. Lalu untuk menjadi ketua umum Hipmi tuh bukan barang mudah. Saya harus jujur mengatakan bahwa menjadi ketua umum Hipmi adalah sesuatu yang sulit. Lebih sulit jadi ketua umum Hipmi daripada jadi menteri.

Kalau sama Hipmi itu urus 467 kabupaten, 34 provinsi, anggota 40 ribu lebih dan ada di seluruh pelosok. Untuk menjadi ketua umum Hipmi itu saya harus datang dari Aceh sampai Papua dan berkali-kali.

Saya roadshow. Satu provinsi bisa sampai tiga atau empat kali, itu per provinsi. Tidak mudah itu.

Artinya Anda belajar kepemimpinan dari pengalaman?


Pengalaman. Kepemipinan itu kan kemampuan seseorang yang dimiliki atas dasar prestasi dalam proses panjang, di mana prestasi itu harus mendapatkan pengakuan dari orang yang dia pimpin. Itulah esensi kepemimpinan.

Kemampuan dalam memimpin orang artinya kemampuan dalam memberikan problem solving. Menurut saya atas dasar perjalanan panjang itu kemudian mungkin teman-teman melihat bahwa Insya Allah saya bisa diberikan amanat untuk memimpin Hipmi.

Siapa panutan Anda dalam menjalani hidup?


Ayah saya. Saya menjadikan hidup, tauladan hidup itu ayah saya. Ayah saya seorang pejuang sejati. Ia tetap bekerja meski sedang sakit dan dia bertanggung jawab untuk anak-anaknya bisa sekolah. 

Dia sangat memperlihatkan tanggung jawabnya, dia memperlihatkan kerja kerasnya, dan dia memperlihatkan konsistensinya. Kemudian sampai dengan beliau meninggal saya tidak pernah mendengar beliau mengambil hak orang atau menipu orang atau utang di orang. Saya menghargai itu.


Dari semua perjalanan hidup, kapan Anda merasa momen itu adalah titik terendah dalam hidup?


Usia saya ini kan 43 tahun. Saya sering mengatakan begini bahwa 0-25 tahun itu kehidupan saya setengah manusia. Kenapa, karena itu kehidupan yang paling susah. Keluarga kami kan orang miskin. Masuk 26 tahun baru saya punya gaji. Itu baru mulai kehidupan saya agak baik. Tapi usia 0-25 tahun itu susah. Jadi saya baru merasakan manusia seutuhnya itu 18 tahun. Sejak 25 tahun ke 43 tahun kan.

Berarti dari 26 tahun sampai sekarang bisa dibilang kehidupannya sudah stabil?


Begini, stabil itu relatif ya. Ini bergantung orang melihatnya. Jadi belum tentu orang tidak punya uang itu tidak bahagia. Tapi kalau mau melihat ukuran orang karena punya uang kemudian kebahagiaan, banyak juga orang punya uang tapi tidak bahagia. Jadi uang itu sekali lagi bukan tujuan hidup, tapi fasilitas hidup. 

Kalau semua orang punya uang itu bahagia, tidak ada kerusakan di antara mereka. Tapi kan banyak juga konglomerat stress kan. Kemudian banyak orang miskin bukan berarti menderita semua. Mereka mungkin lebih bahagia. Jadi memaknai hidup itu tergantung dari perspektif.

Anda memiliki sejumlah perusahaan. Lalu bagaimana Anda mengurus perusahaan itu sekarang?


Saya sudah tidak boleh berbisnis, jadi sepenuhnya diserahkan ke orang profesional. Saya kan tidak boleh berbisnis, mengabdi di negara sebagai anggota kabinet itu tidak boleh berbisnis.

Apakah akan balik lagi pak ke dunia bisnis kalau sudah selesai jadi Kepala BKPM?


Iya dong, habitat saya kan pengusaha. Kalau saya sudah selesai mengabdi, balik lagi menjadi pengusaha. Kalau jadi pengusaha dan masuk kabinet, kemudian selesai di kabinet itu tidak ada beban karena bisa kembali memimpin perusahaan kita. Justru saya mikir kapan selesainya (di kabinet).

Ini karena saya kan banyak agenda perusahaan tapi sekarang harus ditunda karena fokus kepada bangsa dan negara. Suatu saat setelah amanat selesai untuk bangsa dan negara, sudah dilakukan dengan baik-baik. Yasudah.

Mungkin ada orang yang sudah tidak menjadi menteri stress kali ya atau kalau sudah tidak menjadi Kepala BKPM stres karena tidak ada kerjaan. Lalu bisa juga jabatan dianggap segala-galanya. Kalau saya menganggap jabatan itu hanya amanat dan sesaat. Jadi jangan berubah deh, di sini juga saya tidak menggunakan fasilitas negara. Tidak ada. Mobil pun mobil sendiri. Fasilitas negara hanya ajudan-ajudan ini saja sama protokol.


Menjadi Kepala BKPM berarti dekat dengan pengusaha karena berhubungan dengan investasi. Sementara, pengusaha adalah dunia Anda juga, apakah suka ada godaan dari pebisnis terkait investasi?


Kalau kebijakan sudah pasti. Kalau saya realistis saja. Kalau memang negara harus memberikan kebijakan yang pro pengusaha dan menguntungkan negara ayo sama-sama saja. Jadi kebijakan yang diambil adalah melihat kepentingan negara dan melihat kepentingan pengusaha. Dua-duanya harus dijalankan. Kenapa, karena sebagus apapun regulasi tapi kalau tidak bisa berdampak pada peningkatan ekonomi, itu bagi pengusaha akan susah. Jadi harus untuk kepentingan negara dan pengusaha.

Tapi kalau dirayu untuk dapat ini dapat ini maaf maaf sekali. Tidak lah. Tugas pengusaha itu memang hanya dua, menyiasati aturan dan menaklukan pejabat. Itu kelakuan saya dulu. Masa sekarang saya sudah di sini mau ditaklukin sama pengusaha. Enak saja.

Saya konsisten. Saya sudah cukup kok. Saya mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Allah terlalu baik untuk saya karena saya berangkat dari ketidakpunyaan, saya berangkat dari sebuah titik terendah. 

Tapi apakah sudah ada godaan-godaan dari pengusaha sejak Anda menjadi Kepala BKPM?


Oh pasti. Pengusaha itu suka menggoda dan itu memang pengusaha. Kalau pengusaha tidak menggoda, dia tidak terlalu sukses. Tinggal seberapa besar kemampuan orang yang digoda untuk menyaringnya. Harus ada komitmen pribadi, harus bisa membedakan di saat menjadi pengusaha atau saat menjadi aparat pemerintah. Saya harus adil untuk semua, harus menjadi contoh. Memang itu tidak mudah, tapi Insyaallah saya berikhtiar terus.

Apa filosofi kehidupan Anda?


Kerja maksimal saja. Kalau saya yakin itu benar, maka saya akan lakukan dengan cara saya. Apapun rintangannya. Saya akan lakukan.

Lalu jangan menyusahkan orang. Jangan mengambil hak orang. Apalagi menipu orang. Tapi kalau dia sakit akibat persaingan ya apa boleh buat. Saya kan juga manusia. Saya tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Tapi saya selalu mencoba untuk berikhtiar agar tidak pernah mau menikung orang dalam konteks berbisnis atau mengambil hak orang. Insyaallah tidak. (bir)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK