Virus Corona, Sri Mulyani Rumuskan Stimulus Ekonomi Jilid II

CNN Indonesia | Kamis, 05/03/2020 13:08 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyebut stimulus ekonomi jilid II demi meredam dampak virus corona berpotensi tambah defisit APBN. Sri Mulyani mulai memformulasikan stimulus ekonomi jilid II demi meredam dampak virus corona. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan masih terus memformulasikan berbagai kebijakan yang akan masuk dalam paket stimulus ekonomi jilid kedua untuk mengatasi dampak virus corona. Saat ini, kebijakan tersebut masih terus dibahas bersama dengan para kementerian terkait.

"Sedang kami formulasikan nanti arahnya bagaimana, jenisnya apa saja, dan ditujukan untuk sektor apa, mekanismenya seperti apa," ungkap Sri Mulyani, Kamis (5/3).

Sayangnya, bendahara negara itu masih enggan memberi kisi-kisi soal paket tersebut. Ia juga enggan memberi proyeksi soal kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dalam memenuhi kebutuhan anggaran paket stimulus ekonomi jilid kedua yang digadang-gadang mencapai Rp10,3 triliun.


"Pokoknya nanti kalau sudah selesai," imbuhnya.

Ia hanya mengatakan defisit anggaran berpotensi membengkak akibat kebijakan tersebut.

"Kami pasti mengantisipasi, ini akan meningkat sesuai kondisi yang ada, besarannya akan selalu kami update per bulannya," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan pemerintah setidaknya menyiapkan dana senilai Rp10,3 triliun untuk paket stimulus ekonomi jilid kedua. Kebijakan paket ini belum dirinci, namun tujuannya akan fokus ke rantai pasok industri.

Sementara Sri Mulyani memastikan paket stimulus ekonomi jilid pertama tetap akan berjalan, meski pemerintah menunda kebijakan insentif bagi wisatawan mancanegara yang akan berlibur ke Indonesia. Namun, insentif untuk wisatawan domestik tetap diberikan.

[Gambas:Video CNN]
Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu pun belum bisa memberi estimasi kapan sekiranya kebijakan insentif itu akan kembali dikeluarkan. Namun, ia menekankan insentif lain akan tetap diberikan, misalnya di bidang perpajakan dan sektor riil seperti kemudahan izin bagi importir.

"Kami lihat efektivitas saja, kalau timing kan lihat kebutuhan. Kalau efektivitas penurunan pajak hotel dan restoran, itu tetap kami lakukan. Jadi kalau memang timingnya tidak tepat, bisa dimundurkan, kami fleksibel terhadap demand industri," terangnya.

Penyebaran virus corona atau Covid-19 telah membuat sektor ekonomi melemah. Berbagai lembaga internasional pun meramalkan ekonomi dunia dan sejumlah negara akan menurun akibat tekanan ini, termasuk Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah mengantisipasi dengan menciptakan paket stimulus ekonomi. Di sisi lain, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan turut memberi stimulus dengan kebijakan masing-masing.

(uli/agt)