Moody's Ramal Laju Ekonomi G20 Tertekan, RI Cuma 4,8 Persen

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Senin, 09/03/2020 09:32 WIB
Pertumbuhan ekonomi G20 diproyeksi jadi 2,1 persen karena tekanan virus corona, sedangkan RI jadi 4,8 persen. Pertumbuhan ekonomi G20 diproyeksi jadi 2,1 persen karena tekanan virus corona, sedangkan RI jadi 4,8 persen. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).
Jakarta, CNN Indonesia -- Moody's, lembaga pemeringkat internasional, memproyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara G20, termasuk Indonesia, tertekan karena wabah virus corona. Tak tanggung-tanggung, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi setidaknya berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi cuma 4,8 persen dari proyeksi awal 5,0 persen. Sedangkan ekonomi China rontok dari 6,1 persen menjadi 4,8 persen. Begitu pula dengan Jepang dari 0,7 persen menjadi stagnan nol persen.

Secara keseluruhan, Moody's merevisi pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 menjadi 2,1 persen atau 0,5 persen lebih rendah dari proyeksi awal, yakni 2,6 persen. Dengan kontribusi terbesar setelah negara-negara di atas, yaitu Amerika Serikat, Eropa, Australia, Korea Selatan, dan China.


Hal itu dinilai Moody's karena pemulihan aktivitas ekonomi global sangat bergantung pada berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Diketahui, saat ini penyebaran virus corona meluas dan bergulir cepat di luar China.

"Beberapa perkembangan yang masuk akal bisa mengarah pada skenario yang jauh lebih negatif daripada proyeksi baseline kami," ujar Wakil Presiden Moody's Madhavi Bokil, seperti dikutip dari keterangan resmi, Senin (9/3).

Bokil menerangkan kekurangan berkelanjutan di sektor konsumsi, ditambah dengan penutupan bisnis yang berkepanjangan akan mengganggu pendapatan perusahaan-perusahaan, dan mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kondisi ini menjadi sentimen, yang pada akhirnya dapat meningkatkan ancaman resesi dengan sendirinya. Saat ini, ketidakpastian masih ada dan luar biasa tinggi," terang dia.

Kebijakan dari otoritas fiskal, bank sentral negara-negara di dunia, termasuk tawaran paket bantuan dari sejumlah lembaga internasional diharapkan membantu menopang penguatan dan mengurangi kerusakan ekonomi masing-masing negara terdampak.

[Gambas:Video CNN]

(bir)