Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Jilid III terkait Corona

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 05:58 WIB
Setelah mengguyur insentif untuk sektor pariwisata dan bebas PPh 21 bagi manufaktur, pemerintah menyusun stimulus ekonomi baru. Setelah mengguyur insentif untuk sektor pariwisata dan bebas PPh 21 bagi manufaktur, pemerintah menyusun stimulus baru. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi jilid ketiga yang akan mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pembatasan interaksi sosial (social distancing) karena wabah virus corona.

Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono Moegiarso belum merinci stimulus ekonomi yang dimaksud. Namun, ia memastikan paket stimulus jilid ketiga merupakan hasil evaluasi dari paket stimulus jilid pertama dan kedua.

"Ini stimulus lanjutan yang didasari hasil evaluasi stimulus satu dan dua. Salah satunya kebijakan untuk mendukung social distancing, nanti akan ada kebijakan yang kami keluarkan," ujarnya, Selasa (17/3).


Saat ini, katanya, proses evaluasi dan kajian masih terus dilakukan, sehingga belum ada kebijakan final untuk paket stimulus ketiga. Ia enggan memberi proyeksi target kapan sekiranya paket ini bisa diluncurkan.

Kebijakan paket stimulus jilid ketiga merupakan perintah langsung dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Tapi, kebijakan ini tetap didiskusikan dengan kementerian/lembaga lain.

Sebelumnya, pemerintah sudah merilis paket stimulus jilid pertama dan kedua. Pada jilid pertama, pemerintah memberikan insentif diskon tiket pesawat bagi wisatawan mancanegara dan domestik.

Tujuannya, untuk merangsang kembali minat wisata dari kedua jenis turis. Namun belakangan, insentif bagi turis luar negeri diundur karena Indonesia menutup akses penerbangan dari dan menuju beberapa negara yang merupakan epicentrum virus corona.

Sementara pada jilid kedua, pemerintah menebar insentif gratis pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, 22, dan 25 kepada pekerja industri manufaktur dan perusahaan. Tujuannya, untuk menumbuhkan daya beli masyarakat di tengah tekanan pandemi virus corona.

Kendati begitu, paket stimulus ini mendapat kritik dari Menteri Keuangan era pemerintahan Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri. Menurutnya, stimulus itu tidak akan efektif karena menyasar peningkatan permintaan dan konsumsi masyarakat.

Padahal, yang terjadi saat ini, masyarakat justru diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, mulai dari bekerja, belajar, hingga ibadah dari rumah.

"Jika orang mengurangi aktivitas, termasuk pergi berbelanja, menghindari keramaian, kontak people to people, maka pola kebijakan yang tujuannya mendorong permintaan melalui belanja tidak akan efektif. Walau memiliki uang, orang akan mengurangi aktivitas belanjanya," kata Chatib dalam unggahan di akun Twitter pribadinya.

Karenanya, ia menyarankan agar pemerintah mengubah kebijakan stimulus tersebut. Sebagai pengganti, ia menyarankan pemerintah untuk fokus memenuhi kebutuhan masyarakat di perkotaan, meningkatkan aliran bantuan sosial (bansos), hingga lebih mengedepankan layanan kesehatan.

[Gambas:Video CNN]

(uli/bir)