Corona, Faisal Basri Minta Jokowi Tarik Draf Omnibus Law

CNN Indonesia | Selasa, 17/03/2020 16:59 WIB
Ekonom Faisal Basri menilai bukan saat yang tepat untuk membahas draf omnibus law RUU Cipta Kerja dengan DPR di tengah wabah corona. Faisal Basri meminta pemerintah menarik kembali draf RUU Omnibus Law dari DPR di tengah wabah virus corona. (Reno Esnir).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom senior Faisal Basri meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) menarik lagi draf omnibus law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja yang sudah diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada bulan lalu. Pemerintah sebaiknya fokus mengatasi virus corona yang semakin menyebar di dalam negeri.

Faisal menilai saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas Omnibus Law Cipta Kerja. Terlebih, jumlah pasien yang terjangkit virus corona di Indonesia tembus 100 orang.

"Langkah nyata segera adalah menarik kembali rancangan undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja," tulis Faisal dalam tulisan berjudul "Bersama Kita Bisa" pada blog pribadinya, dikutip Selasa (17/3).


Faisal bilang Jokowi juga harus segera menetapkan keadaan darurat di Indonesia agar virus corona tak semakin menyebar ke berbagai wilayah. Saran serupa juga diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hanya saja saran itu belum dilakukan oleh Jokowi.

Selain itu, Faisal mengusulkan Jokowi belajar dari negara lain dalam menghadapi serangan virus corona. Hal ini demi meminimalkan jumlah korban jiwa karena wabah tersebut.

"Di Eropa, Italia dan Spanyol adalah negara paling banyak terjangkit dan korban jiwa. Sementara Jerman dan Swedia sudah ribuan warganya yang terjangkit, tapi jumlah kematian rendah," kata Faisal.

Menurut dia, jumlah warga Jerman yang meninggal karena virus corona sejauh ini sebanyak 13 orang. Kemudian, di Swedia sendiri hanya enam orang.

"Dari yang berstatus masih kasus aktif atau yang dalam keadaan kritis masing-masing (di Jerman dan Swedia) hanya dua orang," terang Faisal.

Sementara, belum ada pasien yang terinfeksi virus corona di Malaysia dan Singapura yang meninggal. Hanya saja, jumlah pasien yang positif cukup banyak, yakni ada 566 orang di Malaysia dan 243 di Singapura.

Kondisi yang sama terjadi di Israel, Arab Saudi, Portugal, Finlandia, Islandia, dan Brazil. Jumlah warga yang terjangkit mencapai ratusan, tetapi tak ada korban meninggal.

"Belajarlah dari kisah kegagalan dan keberhasilan negara-negara lain," imbuh Faisal.

Rombak Tim Khusus

Selain itu, Faisal juga mengusulkan agar Jokowi merevisi desain tim khusus yang dibentuk untuk mengurus virus corona di Indonesia. Saat ini, tim yang dibentuk Jokowi adalah satuan tugas (satgas) dan tim reaksi cepat penanggulangan corona.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Faisal, perang melawan virus corona hanya bisa dilakukan di bawah satu komando. Dengan demikian, kebijakan yang diambil tidak tumpang tindih.

"Komandan harus kredibel dan kompeten agar diikuti seluruh jajaran di bawahnya. Mengingat musuh yang dihadapi adalah 'hantu' virus yang tak kelihatan kasat mata, komandan harus memiliki pengetahuan khusus yang mendalam," ungkap Faisal.

Komandan itu, tambah Faisal, bisa saja dari ahli biologi, ahli farmasi, ahli kesehatan masyarakat, dan ahli komunikasi. Yang penting, sang komandan nantinya harus paham tentang virus corona secara mendalam.

"Dan dibantu oleh tenaga inti yang mengetahui seluk-beluk kekuatan dan kelemahan musuh," ujarnya.

(aud/sfr)