Ekonomi AS Diramal Porak Poranda Minus 9 Persen Karena Corona

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 15:10 WIB
Ekonomi AS Diramal Porak Poranda Minus 9 Persen Karena Corona Pengamat menilai ekonomi AS pada kuartal I negatif 9 persen, berlanjut hingga minus 34 persen pada kuartal II karena corona. Ilustrasi. (AP Photo/Mark Lennihan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat menyebut pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) bakal 'hancur-hancuran' karena pandemi virus corona, terutama pada kuartal I dan II 2020.

Ekonom Goldman Sachs, misalnya, memproyeksi pertumbuhan ekonomi riil AS negatif 9 persen pada kuartal I dan berlanjut hingga 34 persen pada kuartal II.

Kondisi ini terjadi, karena banyaknya perusahaan yang menempuh jalur pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah pengangguran di AS pun dipastikan meningkat.


Belum lagi, banyaknya warga yang mengajukan kredit ke bank. Padahal, pusat kota di AS adem ayem. Nyaris seluruh pusat perbelanjaan atau mal tutup, bar dan kafe kosong, dan pesawat terbang tidak lagi membawa penumpang.

Mengutip CNN.com, Rabu (1/4), ekonom tersebut menilai hantaman penyakit covid-19 memang belum tercermin dalam data bulanan AS. Namun akan terasa pada rilis tiga bulanan selama dua kuartal berturut-turut.

Tak heran, laporan konsumen terakhir menunjukkan bahwa AS masih cukup percaya diri saat ini. Begitu juga dengan laporan pekerjaan bulanan, di mana datanya tidak atau belum menunjukkan tren menurun signifikan.

Apalagi, periode survei dalam membuat laporan dilakukan pada pekan kedua Maret. Saat itu, AS baru sadar ada ancaman besar dari virus corona dan jaga jarak fisik antar warga (physical distancing) belum diimplementasikan.

Namun, pada pertengahan tahun ini, ia meramalkan tingkat pengangguran melonjak hingga 15 persen. Pekan lalu saja, terdapat 32,8 juta orang AS yang mengajukan tunjangan pengangguran.

Jumlah orang yang akan terkena PHK akan terus bertambah. Pekan ini diproyeksi ada tambahan hingga jutaan pekerja yang akan didepak dari perusahaan.

Kepala Ekonom Moody's Analytics memproyeksi ada 4,5 juta orang yang terkena PHK mengajukan tunjangan pengangguran pekan ini. Angka itu akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah.

Pemerintah AS perlu segera merealisasikan berbagai stimulus yang telah dijanjikan untuk seluruh lapisan masyarakat yang terdampak penyebaran virus corona. Salah satunya adalah pinjaman untuk pelaku usaha kecil.

Masalahnya, sekarang sudah memasuki awal bulan. Itu berarti waktunya bagi pelaku bisnis dan konsumen membayar cicilan utang ke perbankan. Namun, dana darurat yang dijanjikan pemerintah AS belum juga dicairkan.

[Gambas:Video CNN]

Ia menyatakan dana itu hanya bisa untuk menjaga warga AS bertahan hidup. Namun, tidak cukup untuk menggairahkan kembali ekonomi Pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Makanya, para pengamat meminta pemerintah AS untuk kembali mengkaji stimulus ekonomi lebih banyak dengan dana yang jauh lebih besar. Ini dibutuhkan secepatnya demi mempertahankan ekonomi.

Lihat saja, hanya dalam waktu tujuh pekan pasar saham jatuh ke rekor tertingginya. Pergerakan indeks Dow Jones tercatat paling parah karena anjlok lebih dari 30 persen.

Seluruh situasi ekonomi ini belum pernah terjadi sebelumnya. Para ekonom mengaku belum memiliki panduan dalam menghadapi situasi sekarang.

Diketahui, pemerintah AS menggelontorkan dana stimulus sebesar US$2 triliun atau sekitar Rp32 ribu triliun (kurs Rp16 ribu per dolar AS) demi menyelamatkan ekonomi yang terpukul oleh penyebaran virus corona. Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang paket kebijakan itu pada Jumat (27/3) kemarin.

Trump menyebut insentif ini diharapkan menolong keluarga, pekerja, hingga pengusaha AS yang terkena dampak negatif virus corona.

Trump menjabarkan pemerintah AS akan menyalurkan insentif sebesar US$100 miliar untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan peralatan medis hingga alat pelindung diri (APD).

Lalu, sebanyak US$500 miliar akan dipinjamkan kepada perusahaan-perusahaan termasuk maskapai penerbangan.

Selanjutnya, sekitar US$377 miliar akan dihibahkan untuk usaha kecil dan menengah dan sisa stimulus dialokasikan untuk membantu para pengangguran di AS. (aud/bir)