Corona Bikin Ekonomi China Lebih Parah dari Resesi 1990

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 06:00 WIB
Wabah virus corona mengancam pertumbuhan ekonomi China. Dalam skenario terburuk, laju ekonomi China tertahan di nol persen pada tahun ini. Wabah virus corona menekan perekonomian China ke level terendah dalam 44 tahun terakhir. Ilustrasi. (AP/Andy Wong).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonomi China mulai menunjukkan geliat usai diguncang pandemi virus corona. Namun, langkah Negeri Tirai Bambu itu masih panjang di tengah ketidakpastian saat ini.

Pertumbuhan PDB China berpotensi menyusut menjadi satu hingga dua persen, terperosok dari pertumbuhan 2019 yang berada di 6,1 persen. Melansir CNN, Rabu (1/4), para analis termasuk Bank Dunia meramalkan, perekonomian China tahun ini bisa tak tumbuh sama sekali dalam skenario terburuk.

Skenario tersebut merupakan yang terparah selama 44 tahun terakhir atau lebih parah dari krisis 2008-2009 dan bahkan resesi pada 1990 ketika dunia memberlakukan sanksi kepada China akibat pembantaian Tiananmen.


Analis dari UBS dan Golden Sachs baru-baru ini memangkas perkiraan pertumbuhan China masing-masing menjadi 1,5 persen dan 3 persen.

Bahkan,  pemerintah China yang telah menentukan target PDB tiap tahun sejak 1985, ragu dalam memasang target. Seorang pembuat kebijakan di Bank Sentral China (PBOC) menyarankan pemerintahan Xi Jin Ping untuk tak menetapkan target pada 2020.

"Ini keadaan yang sangat sulit untuk merealisasikan pertumbuhan di angka 4 hingga 5 persen. Banyak pengamat memprediksikan pertumbuhan akan terjun ke 1 hingga 2 persen. Segala kemungkinan bisa saja terjadi," kata anggota komite kebijakan moneter Bank Sentral China Ma Jun.

Dengan tengah ketidakpastian ini, Ma menyebut target pertumbuhan yang tidak realistis dapat berujung pada pemerintah daerah yang menanam investasi di bidang infrastruktur demi mencapai target. Ini dapat menjadi bumerang sebab tak meringankan beban pengangguran atau pun membantu mereka yang mata pencahariannya terganggu.

Diperlukan Bantuan Lebih

Namun, sebuah survei resmi minggu ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan di industri manufaktur China yang remuk pada Februari lalu. Geliat terjadi di tengah berbagai stimulus yang digelontorkan pemerintah.

Pemerintahan RRC pada Selasa (31/3) mengumumkan lebih dari 3 triliun Yuan atau setara dengan US$423 miliar disuntikkan untuk mendukung UMKM.

PBOC pun menyediakan tambahan i juta triliun (US$141 juta) untuk Bank kecil hingga sedang dan memotong jumlah tunai yang harus dicadangkan. Keduanya dilakukan untuk meningkatkan pinjaman kepada para pekerja UMKM.

Sebelumnya, Bank Sentral telah menyuntikkan likuiditas atau mengalokasikan pinjaman tambahan sebesar 1,65 triliun yuan (US$232 miliar). Selain itu, stimulus sebesar 116,9 miliar yuan (US$16,4 miliar) juga dianggarkan untuk memerangi wabah virus corona.

Sementara itu, Capital Economics, kantor konsultasi dan riset makro di Inggris meramalkan PDB kuartal I China dapat menyusut sebanyak 16 persen dan merosot sebesar 3 persen sepanjang 2020.

[Gambas:Video CNN]

Nomura memprediksikan ekonomi China hanya akan tumbuh di angka 1 persen pada 2020. Kondisi ini berpotensi mematikan jutaan pekerjaan.

"Kami perkirakan faktor penurunan ekspor sendiri dapat menyebabkan hilangnya 18 juta pekerjaan (pada kuarter kedua 2020)," sebut Kepala Ekonom Nomura Ting Lu.

(wel/sfr)