Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menyebut dana tambahan yang merupakan bagian dari insentif sektor kesehatan dalam menangani penyebaran virus corona itu masih jauh dari cukup untuk menjaga kualitas layanan kesehatan peserta. Pasalnya, defisit BPJS Kesehatan per 2019 saja sebesar Rp15,5 triliun meski telah menerima suntikan dana sebesar Rp13,5 triliun dari iuran ASN, TNI, dan Polri.
"Rp3 triliun jauh dari cukup, ini hanya sebagian kecil saja mungkin pertimbangannya sebagai penjaring keamanan peserta di tengah wabah virus corona saat ini," tuturnya, Rabu (1/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Irvan, saat ini pemerintah tengah 'galau' menentukan langkah selanjutnya setelah diharuskan MA menanggung beban bayar peserta BPJS Kesehatan. Jika pemerintah tak mampu menanggung beban tersebut, Irvan menyebut fasilitas kesehatan peserta yang bakal menjadi korban.
"Pemerintah masih cukup galau untuk menyuntikkan dana. Jadi kita harus ingat, kalau pun tarif tak jadi naik maka pemerintah harus mencari cara lain untuk menutup defisit BPJS Kesehatan," katanya.
Karenanya, Irvan mengusulkan pemerintah untuk mengubah tata kelola BPJS Kesehatan dan getol menagih mereka yang selama ini menunggak meski mampu membayar.
Selain itu, Irvan juga menyarankan pemerintah untuk mengenakan biaya tambahan untuk klaim penyakit berat seperti sakit jantung, stroke, atau penderita penyakit lainnya yang diharuskan menerima penanganan khusus. Kisarannya pun tak harus melonjak 100 persen, sarannya 20 hingga 30 persen biaya perawatan dapat dikenakan kepada peserta.
Saran lainnya, pemerintah dapat mengalihkan pemasukan dari bea cukai rokok yang dinaikkan per 1 Januari 2020 lalu untuk menambal defisit BPJS Kesehatan. Dana tersebut menurutnya dapat dialirkan secara berkesinambungan tanpa membuat keuangan negara babak belur.
Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah menilai langkah pemerintah menyuntikkan dana sebesar Rp3 triliun merupakan kewajiban yang harus dipenuhi akibat pembatalan MA akan tarif BPJS Kesehatan. Ia mengapresiasi langkah tersebut meski menurutnya dana tersebut tak akan berarti banyak.
Dia menambahkan, suntikkan tersebut bukanlah hal yang luar biasa sebab sebelum wabah virus corona pun suntikkan dana dibutuhkan oleh BPJS Kesehatan. Pangkal masalahnya, menurut Piter, adalah sumber pendanaan yang tak mencukupi kebutuhan. Konsep gotong royong pun tak jalan sebab banyak dari peserta yang tak disiplin dalam membayarkan iurannya.
"Peserta harus meningkatkan kedisiplinan bayar, keikutsertaan juga masih sangat rendah. Tidak bisa semuanya ditanggung terus oleh pemerintah," jawabnya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/sfr)