Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Dini Hanggandari mengatakan ekspor baja menjadi langkah strategis saat ini, mengingat utilisasi baja di dalam negeri turun 50 persen karena pemerintah sedang fokus menangani penyebaran penyakit covid-19.
"Pada dasarnya, baja ini kami butuh untuk pemenuhan dalam negeri sendiri. Tapi jika ekspor dilakukan oleh industri yang produknya secara suplay sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri, ekspor itu sebagai diversifikasi pasar. Jadi, memang kami dorong," kata Dini, mengutip Antara, Kamis (9/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait standar yang dibutuhkan untuk menembus pasar ekspor, produk baja yang disusun dalam negeri sebagian besar diklaim sudah mengacu pada standar internasional.
"SNI yang disusun dalam negeri sebagian besar sudah mengacu pada standar-standar internasional jepang atau JIS dan ASTM (American Soicety for Testing and Materials). Sehingga, secara umum standar internasional dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri apabila industri tersebut sudah memenuhi SNI," terang dia.
Vice Presiden Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan total BJLAS dan BJLS yang diekspor kali ini mencapai 300 ton pada tahap awal.
Namun untuk selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 2.000 ton-3.000 ton per bulan dengan nilai US$1,6 juta-US$2 juta.
Ia menambahkan ekspor perdana ini menunjukkan bahwa baja produksi Tata Metal Lestari yang merupakan 100 persen milik Indonesia (PMDN), bisa bersaing di pasar internasional, dan memiliki standar mutu yang diakui secara internasional.
[Gambas:Video CNN]
(bir)