BI Ramal Ekonomi RI Anjlok 1,1 Persen pada Kuartal II 2020

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 18:34 WIB
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi anjlok dari 5,27 persen ke 1,1 persen pada kuartal II 2020 karena wabah virus corona. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 1,1 persen pada kuartal II 2020 karena wabah virus corona. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 1,1 persen pada kuartal II 2020. Angkanya jauh melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,27 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan prediksi itu merupakan skenario berat sebagai dampak dari penyebaran virus corona di Indonesia. Pasalnya, satgas tugas percepatan penanganan virus corona memperkirakan penyebaran wabah itu akan mengalami puncak pada Juli 2020.

"Kalau menurut satgas sampai Juni atau Juli, sebelumnya puncaknya Mei. Kalau Juni dan Juli itu kami menggunakan skenario berat (untuk ekonomi)," kata Perry dalam video conference, Kamis (9/4).


Sementara, Perry meramalkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 sekitar 4,7 persen, kuartal III 2020 sebesar 1,3 persen, dan kuartal IV 2020 sekitar 2,4 persen. Ini artinya, ekonomi Indonesia berpotensi membaik pada akhir tahun.

"Secara keseluruhan skenario berat itu menghasilkan bahwa pertumbubuhan ekonomi Indonesia pada 2020 bisa 2,3 persen," jelas Perry.

Sebelumnya, Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi bisa minus hingga 0,4 persen pada 2020. Angka itu merupakan skenario terburuk akibat penyebaran virus corona di dalam negeri.

Penyebab anjloknya pertumbuhan ekonomi tersebut karena konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah yang turun. Sri Mulyani menyatakan konsumsi rumah tangga menurun menjadi 3,2 persen hingga 1,6 persen dan investasi minus 4,22 persen.

"Awalnya kami perkirakan pertumbuhan investasi bisa 6 persen, tapi jadi 1 persen atau bahkan negatif 4 persen," ucap Sri Mulyani.

[Gambas:Video CNN]

Ia bersama BI dan OJK mengaku sudah mempersiapkan skenario dari yang buruk sampai yang terburuk. Langkah ini disiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan dan implikasi sosial serta keuangan akibat virus corona.

"Jadi beberapa langkah yang dilakukan dari diagnosa perekonomian global yang negatif adalah ancaman terhadap sektor keuangan dalam bentuk capital outflow, tekanan pasar modal, surat berharga dan eskalasi masih tajam," jelas Sri Mulyani.

(aud/sfr)