Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan estimasi ini berasal dari asumsi skenario terburuk pada harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oils Price/ICP) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saat ini, dinamika perekonomian global dan nasional menekan kedua indikator tersebut.
"Dari simulasi ini, bisa dilihat untuk yang terberat penurunan pendapatan perusahaan dibandingkan RKAP mencapai 38 persen dan untuk yang sangat berat 45 persen dari RKAP," ungkap Nicke dalam rapat virtual dengan Komisi VI DPR, Kamis (16/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memitigasi skenario terburuk ini, Nicke menerangkan perusahaan telah mengantongi beberapa strategi, mulai dari menunda eksplorasi sumur baru dan menurunkan batas operasional ke level rendah.
Tak ketinggalan, perusahaan juga akan melakukan efisiensi dan menekan perencanaan pengolahan minyak mentah karena harga tengah meningkat di domestik. Di sisi lain, mungkin pula dengan meningkatkan impor minyak.
"Impor sedang murah, saat tepat untuk meningkatkan stok yang dilakukan untuk menurunkan HPP BBM dan LPG kami selama covid-19," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/uli)