Edukasi Keuangan

Tip Cegah Kantong Bolong Karena Tagihan Pulsa dan Listrik WFH

CNN Indonesia | Sabtu, 18/04/2020 08:26 WIB
Annisa Retno Utami (27) sedang melakukan work from home (WFH) di kediamannya di Cijantung, Jakarta Timur, Jumat, 20 Maret 2020. Annisa yang merupakan karyawan swasta dan dosen mulai menjalankan WFH sejak 16 Maret 2020. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Berikut trik menyiasati agar tak buat kantong bolong saat tagihan listrik dan pulsa bengkak di tengah WFH. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona membuat seluruh masyarakat harus 'mengunci' diri di rumah. Aktivitas pun dibatasi dan semua dilakukan di rumah. Dari bekerja hingga belajar.

Generasi milenial yang sebagian besar menghabiskan waktu di luar untuk bersosialisasi mulai 'garuk kepala'. Pembatasan sosial membuat generasi ini harus menyesuaikan diri.

Tak hanya kebiasaan, mereka pun harus menyesuaikan 'isi kantong' agar tak bolong usai pembatasan sosial. Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Lusiana Darmawan menyebut para millennial bisa saja terbebani dengan pengeluaran yang tak terduga, seperti membengkaknya biaya pulsa dan tagihan listrik anak kosan.


Maklum, para pekerja kini dituntut untuk selalu sigap di depan laptop mengikuti kegiatan kantor lewat video conference.
Lusi bilang, tuntutan bekerja dari rumah pun mengharuskan para pekerja untuk pintar-pintar menyisihkan pendapatan untuk menambal pengeluaran tak terduga jika tak mau tekor.

Namun, Lusy menegaskan tidak perlu panik. Pasalnya, prinsip dalam mengatur keuangan saat bekerja dari rumah sebetulnya tak rumit. Apalagi, untuk mereka yang sudah memulai WFH lebih dari sebulan.

"Kalau sudah jalan sebulan WFH-nya, seharusnya sudah kelihatan pattern (pola) pengeluaran dan belanja selama berada di rumah," katanya pada Jumat (17/4).

Menurutnya, dengan pola yang sudah diketahui dari bulan sebelumnya, pos pengeluaran lain yang 'menganggur' dapat dimanfaatkan. Misalnya, ongkos transportasi yang kini tak lagi terpakai dapat disubsidi silang untuk kebutuhan pulsa yang membengkak.

Sementara, bagi mereka yang baru memulai bekerja dari rumah dan belum mengetahui pola pengeluaran baru disarankan untuk melakukan audit mandiri. Catatlah seluruh pengeluaran dan pisahkan antara pengeluaran yang tak dapat dihemat seperti uang makan dan uang sewa kos untuk yang tinggal sendiri.

Sisanya, biaya rutin seperti biaya salon, hiburan, dan membership yang tak terpakai dapat disetop untuk sementara waktu. Trik lain yang dapat dipraktekkan, kata Lusy, adalah dengan rajin mencari tahu promo dari operator masing-masing yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, laju pulsa dapat ditekan.

Untuk penggunaan listrik, jika pelanggan daya 450 VA dan 900 VA, insentif pemerintah dapat dimanfaatkan selama 3 bulan ke depan. Lebih lanjut, ia juga mengingatkan para millennial untuk disiplin mengikuti pola pengeluaran yang telah ditetapkan sebab belum diketahui sampai kapan WFH akan diterapkan.

Jika tidak, bisa jadi tabungan yang menjadi korbannya. Kuncinya, ialah mengetahui kondisi keuangan, lakukan penyesuaian, dan utamakan pengeluaran wajib.

"Setelah audit, totalkan sebenarnya pengeluaran ekstra ini bisa disubsidi silang dari pos yang mana. Buat anggaran versi WFH," pesan Lusy.

Anda juga disarankan untuk lebih kreatif demi menekan laju pengeluaran, anggaran investasi diri seperti mengikuti kelas pengembangan diri kini dapat dilakukan via online, carilah yang tak mencekik dompet alias gratis.

Perencana Keuangan Safir Senduk menyebut dengan perubahan drastis yang terjadi saat ini, agar dompet tak jebol, disarankan untuk mengencangkan tali pinggang.

Kata dia, secara persentase, anggarkan 50 persen dari pendapatan untuk biaya hidup yang tak bisa diganggu gugat. Artinya, jika pendapatan Anda per bulan sebesar Rp4,2 juta, maka anggarkan Rp2,1 juta untuk kebutuhan dasar seperti makan minum, tagihan listrik dan air, biaya pulsa, dan suplemen kesehatan.

Sisanya bisa diutak-atik dengan prinsip mengutamakan kebutuhan penting seperti pembayaran asuransi dan cicilan bulanan. Kata Safir, idealnya 30 persen dari anggaran tersebut digunakan untuk cicilan atau biaya tempat tinggal sementara sisanya dapat dipakai untuk tabungan dan dana darurat.

Sedangkan untuk cicilan, Safir bilang ini ialah saat yang tepat untuk meminta keringanan cicilan untuk sementara waktu. Berkurangnya pengeluaran rutin dapat memberi ruang keleluasaan untuk menata ulang anggaran bulanan yang baru.

"Bisa nego, minta disetop dulu. Kalau tidak bisa, minta keringanan. Kalau membership yang tidak mendesak bisa disetop dulu," kata dia.
 
Rem Keinginan

Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Mohammad Andoko menyebut ini adalah saatnya para millennial untuk mengerem keinginan dan berfokus pada kebutuhan. Dengan meningkatnya biaya beban selama bekerja di rumah, millennial dituntut serba bisa demi menjaga kesehatan keuangan.

Penghematan, kata dia, dapat dilakukan di pos yang sama. Jika sebelumnya Anda sering jajan dan makan di luar, kini bisa mencoba masak sendiri untuk mengirit pengeluaran.

Biaya hiburan pun dapat dialihkan ke kegiatan yang dapat dilakukan di rumah. Hobi yang bisa dilakukan di rumah dapat menjadi pilihan. "Bisa dikompensasi dari pos yang sama," terang dia.

Bahkan, Andoko berucap, jika memiliki kemampuan atau skill tertentu yang dapat dipasarkan secara online, tambahan pendapatan bisa diraup.

"Apa lagi dengan tersedianya waktu luang sekarang, sangat bisa memasarkan skill yang ada secara online," papar Andoko.

[Gambas:Video CNN]

(wel/age)