Pasalnya, menurut Yustinus, ada caci maki dan hasutan yang dilontarkan mantan pejabat negara orde baru tersebut. "Saya tak kaget, cuma mengelus dada. Di saat seperti ini, semangat gotong-royong kita semakin diuji. Yang dibutuhkan adalah saling kerja sama dan bela rasa, bukan caci-maki, apalagi menghasut," ujarnya, Rabu (22/4).
Beberapa poin yang disinggung Fuad dalam tulisannya. Pertama, terkait paket stimulus I untuk menggenjot pariwisata senilai Rp72 miliar. Sebelumnya, Fuad menyatakan paket tersebut hanya menjadi bahan olokan karena pemerintah justru menggenjot jumlah wisatawan di tengah virus corona dengan memberikan diskon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi pernyataan tersebut, Yustinus menjelaskan tujuan insentif PPh memang bukan menyembuhkan kondisi perusahaan, namun mengurangi dampak.
Pemotongan PPh diharapkan dapat menopang arus kas perusahaan supaya mampu bertahan. Jika perusahaan mampu bertahan, harapannya angka PHK bisa ditekan.
Ketiga, ia juga menanggapi pernyataan Fuad terkait tambahan belanja anggaran sebesar Rp405 triliun guna menanggulangi dampak covid-19. Menurut Fuad, dari jumlah tersebut yang murni stimulus atau tambahan (on top) hanya sebesar Rp73,4 triliun, bukan Rp405 triliun.
Nilai tersebut didapat dari selisih kenaikan anggaran belanja pemerintah pusat sebesar Rp167,6 triliun dan penurunan dana transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp94,2 triliun. Namun, Fuad mempertanyakan lonjakan defisit anggaran sebesar Rp545,7 triliun dari semula Rp307,2 triliun menjadi Rp852,9 triliun.
Menjawab pertanyaan itu, Yustinus tak mengelak jika Rp405 triliun memang bukan seluruhnya tambahan anggaran. Dana tersebut bersumber dari penghematan anggaran, refocusing dan realokasi anggaran kementerian dan lembaga (K/L), dan anggaran cadangan belanja pemerintah.
Terakhir, Yustinus juga menanggapi pernyataan Fuad terkait pemindahan ibu kota. Fuad mempertanyakan sikap pemerintah tidak menghapuskan atau mengalihkan dana pembangunan ibu kota guna memerangi covid-19. Padahal, kata Fuad, tidak ada urgensi memindahkan ibu kota negara terlebih di tengah kesulitan keuangan negara akibat pandemi corona.
Yustinus menjelaskan pemerintah melalui Kementerian PUPR sudah menyatakan bahwa mega proyek itu bukan prioritas. Sejauh ini, proyek ibu kota baru masih terbatas pada pekerjaan lunak yang tak berhubungan dengan konstruksi.
"Bahkan, biaya survei lapangan dan sejumlah keperluan dinas proyek ibu kota baru telah dipangkas," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)