Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh mengatakan pemeriksaan tetap dilakukan karena sebagian keuangan dan proses pengadaan barang/jasa sudah terlanjur terjadi sebelum keputusan penundaan. Selain itu, BPKP juga sudah melakukan pemeriksaan sementara, sehingga diharapkan pelaksanaan bisa lebih baik karena waktu persiapan yang lebih lama.
"Sesuai tugas kami, pemeriksaan akan terus dilakukan. Tapi kami bersyukur juga dengan penundaan ini diharapkan kekurangan yang kemarin masih ada bisa diperbaiki," ungkap Yusuf dalam rapat bersama Komisi X, Kamis (23/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rencana kebutuhan anggaran juga belum melalui proses pembahasan dengan ketua harian dan verifikasi internal oleh tim verifikasi internal PB PON," katanya.
Sementara Yusuf turut melaporkan penyelenggaraan PON dan Peparnas bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp4,14 triliun. Terdiri dari anggaran untuk infrstruktur Rp1,3 triliun dan penyelenggaraan Rp2,84 triliun.
Kepala LKPP Roni Dwi Susanto menambahkan pemeriksaan terhadap pengadaan barang/jasa juga akan terus dilakukan. Sebab, proses ini dilakukan oleh banyak kementerian/lembaga.
Misalnya, dari dana APBN, pengadaan barang/jasa dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, dan lainnya. "Ini untuk pengadaan barang/jasa terkait pembangunan prasarana, peralatan pertandingan, transportasi, dan lainnya," terangnya.
Kemudian, anggaran dari APBD dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua, Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke. Lalu, bersumber pula dari APBN dan APBD bantuan ke PB PON untuk opening dan closing ceremony, akomodasi, peralatan, katering, dan lainnya.
Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Demokrat Dede Yusuf memberi masukan kepada BPKP dan LKPP agar terus melakukan pemeriksaan keuangan dan pengadaan barang/jasa di program PON dan Peparnas. Khususnya, terhadap kontrak-kontrak yang sudah terlanjur dikerjasamakan oleh para pihak terkait.
"Agar ini ke depan bisa tetap dijalankan, takutnya keburu mati, kalau sudah mati, nanti tidak bermanfaat lagi," kata Dede.
Senada, Wakil Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian meminta pemeriksaan terus dilakukan karena kemungkinan peningkatan harga barang/jasa. Hal ini nantinya akan membuat pelaporan keuangan berubah, namun perlu diawasi agar tidak mengada-ada.
"Sekarang nilai dolar AS juga terus berubah, pasti ada angka yang berubah, belum lagi diundur. Perlu dilihat dampaknya seberapa besar," tutur Hetifah.
[Gambas:Video CNN]
(uli/sfr)