Pengusaha Farmasi Keluhkan Harga Bahan Baku dan Ongkos Angkut

CNN Indonesia | Senin, 27/04/2020 19:43 WIB
Apotek K24 Duren Tiga, Jakarta Selatan ditemukan tidak lagi menjual Viostin DS. Pengusaha farmasi menyebut harga bahan baku obat naik 30 persen dan ongkos angkut naik hingga 5 kali lipat. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi mengeluhkan kenaikan harga bahan baku obat yang melonjak 30 persen. Tidak cuma itu, biaya angkutnya pun naik 3-5 kali lipat karena pihak maskapai dan kapal pengiriman barang memanfaatkan situasi.

Ketua Umum GP Farmasi Tirto Kusnadi mengaku khawatir kondisi ini memaksa pelaku usaha untuk menaikkan harga obat di dalam negeri.

"Jadi betul, kami rasakan harga obat akan meningkat di pasaran karena bahan impor naik, FOB (harga barang sampai ke atas kapal) naik, dan ongkos angkut naik 3-5 kali lipat," ujarnya, dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Senin (27/4).


Ia menjelaskan kenaikan tersebut dipicu keterbatasan armada pengiriman karena penghentian operasional sejumlah penerbangan akibat pandemi virus corona (covid-19). Imbasnya, importir berebut pengiriman bahan baku melalui penerbangan tersisa maupun kapal laut.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dimanfaatkan oleh perusahaan maskapai maupun pemilik kapal pengiriman barang. Terlebih saat ini, seluruh negara membutuhkan obat-obatan sehingga mereka tetap melakukan pengiriman meski dengan harga selangit. "Pemilik maskapai atau vessel menaikkan harga sesuka mereka," tuturnya.

Apalagi, ia mengaku industri farmasi dalam negeri belum siap menghadapi kemunculan virus corona (covid-19). Namun, ia menyatakan anggotanya berusaha maksimal untuk menyediakan kebutuhan obat-obatan dalam negeri.

Terkait impor sektor kesehatan, yang pernah disinggung oleh Menteri BUMN Erick Thohir, ia menuturkan mayoritas atau 90 persen bahan baku obat didatangkan dari luar negeri. Tak hanya itu, Indonesia juga masih mengimpor sebagian besar alat kesehatan.

Karenanya, ia mendorong pembangunan industri kesehatan nasional. Bahkan, ia meminta seluruh pihak terkait untuk membongkar praktik kotor impor di sektor kesehatan oleh para mafia yang menghalangi pembangunan industri nasional.

"Jangan semuanya ujung-ujungnya duit terus. Akhirnya kita terjebak short term policy (kebijakan jangka pendek) yang didominasi oleh mafia-mafia trader-trader (perdagangan) itu. Kita harus lawan dan Pak Jokowi punya keberpihakan itu," ucapnya belum lama ini.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/bir)