Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan pangkal permasalahannya adalah komponen penyusunan struktur harga BBM. Struktur harga ini ditengarai menjadi penyebab harga BBM sulit turun meskipun harga minyak mentah global anjlok.
Pada Rabu (29/4), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik US$0,47 atau 2,3 persen ke posisi US$20,46 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melemah US$0,44 atau 3,4 persen ke US$12,34 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di Indonesia, untuk RON 98 berkadar sulfur maksimum 50 ppm atau standar EURO 4 (jenis Pertamax Turbo) HPP malah mencapai Rp7.387 per liter. Lalu, harga jual di SPBU sebesar Rp9.850 per liter.
"Ada potensi margin kelebihan biaya yang dinikmati oleh parasit BBM seperti para oil trader," imbuhnya.
Karenanya, ia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi struktur komponen harga BBM. Saat ini, struktur harga meliputi harga minyak mentah Indonesia (ICP), pajak BBM 5 persen, PPN 10 persen, dan keuntungan yang diperoleh pengusaha. Dalam hal ini, ia meminta pemerintah terbuka terkait batas keuntungan yang dapat dikantongi pengusaha.
"Dengan harga minyak mentah yang sekarang ini terjun bebas, ini waktu yang tepat bagi pemerintah untuk reformasi harga baru yang pro rakyat tanpa korbankan aspek bisnis Pertamina," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/agt)