BI Akui Punya Peluang Turunkan Suku Bunga

CNN Indonesia | Jumat, 01/05/2020 23:58 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 19 Desember 2019. Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku punya ruang untuk menurunkan suku bunga. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski masih mempunyai ruang untuk menurunkan suku bunga acuan karena tingkat inflasi yang rendah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku tetap mempertahankannya dalam jangka pendek untuk mengantisipasi ketidakpastian global dan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Diketahui, inflasi pada Maret mencapai 0,10 persen secara bulanan, atau 2,96 persen secara tahunan. Suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) masih berada di level 4,5 persen pada April.

"Sebetulnya kami masih punya peluang untuk menurunkan suku bunga dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendukung pemulihan ekonomi, tetapi dalam jangka pendek ini memang kami memang dalam RDG (rapat dewan gubernur BI) memutuskan untuk mempertahankan dulu," ujarnya dalam rapat virtual bersama Komisi XI DPR, Kamis (30/4).


"Karena memang pertimbangan-pertimbangan yang sekarang itu prioritasnya adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang di dalam jangka pendek ini di tengah memang ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi," dia menambahkan.

Perry menyebut BI telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pandemi. Salah satunya melakukan pelonggaran moneter lewat instrumen kuantitas (quantitative easing/QE) dengan suntikan Rp503,8 triliun sejak Januari hingga April 2020.

[Gambas:Video CNN]
Upaya tersebut dilakukan bank sentral demi menjaga nilai tukar rupiah dan likuiditas perbankan di tengah penyebaran Virus Corona.

"Semuanya kami arahkan untuk bisa mendorong pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi," tuturnya.

Sebelumnya, Perry menjelaskan upaya quantitative easing yang dilakukan di antaranya adalah dengan membeli surat berharga negara (SBN) yang dijual asing di pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun. Selain itu, term repo perbankan sebesar Rp137,1 triliun.

Hingga akhir tahun, bank sentral memperkirakan rupiah akan bergerak cenderung stabil dan menguat ke Rp15 ribu per dolar AS pada akhir 2020. Pada perdagangan spot Kamis (30/4) sore rupiah berada di posisi Rp14.882 per dolar AS, menguat 413 poin atau 2,7 persen.

Diketahui, krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 meluas menjadi krisis ekonomi global. Bank-bank sentral sejumlah negara meluncurkan sejumlah langkah stimulus besar-besaran untuk melindungi ekonomi negaranya masing-masing dari dampak Virus Corona.

Bank sentral AS, Federal Reserve, pada Rabu (29/4), mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol. Mereka juga berjanji akan memperluas program darurat yang diperlukan untuk membantu mengangkat ekonomi AS yang mengalami kontraksi cukup dalam pada kuartal pertama 2020, yakni 4 persen.

(ulf/arh)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK