Diketahui, inflasi pada Maret mencapai 0,10 persen secara bulanan, atau 2,96 persen secara tahunan. Suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) masih berada di level 4,5 persen pada April.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perry menyebut BI telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pandemi. Salah satunya melakukan pelonggaran moneter lewat instrumen kuantitas (quantitative easing/QE) dengan suntikan Rp503,8 triliun sejak Januari hingga April 2020.
Upaya tersebut dilakukan bank sentral demi menjaga nilai tukar rupiah dan likuiditas perbankan di tengah penyebaran Virus Corona.
"Semuanya kami arahkan untuk bisa mendorong pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi," tuturnya.
Sebelumnya, Perry menjelaskan upaya quantitative easing yang dilakukan di antaranya adalah dengan membeli surat berharga negara (SBN) yang dijual asing di pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun. Selain itu, term repo perbankan sebesar Rp137,1 triliun.
Diketahui, krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 meluas menjadi krisis ekonomi global. Bank-bank sentral sejumlah negara meluncurkan sejumlah langkah stimulus besar-besaran untuk melindungi ekonomi negaranya masing-masing dari dampak Virus Corona.
Bank sentral AS, Federal Reserve, pada Rabu (29/4), mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol. Mereka juga berjanji akan memperluas program darurat yang diperlukan untuk membantu mengangkat ekonomi AS yang mengalami kontraksi cukup dalam pada kuartal pertama 2020, yakni 4 persen.
(ulf/arh)