"Kami masih mencermati perkembangan dari harga terutama pada Mei dan Juni ini. Pemerintah terus memantau perkembangan minyak dunia yang belum stabil dan memiliki volatilitas tinggi," ujarnya, dalam rapat virtual bersama Komisi VII DPR, Senin (4/5).
Selain itu, ia mengaku pemerintah masih menunggu realisasi pemangkasan produksi minyak global. Seperti diketahui, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) untuk Mei dan Juni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Harga Minyak Dunia Mulai Lepas dari Tekanan |
"Kami sendiri, ini adalah perkiraan harga akan rebound pada kisaran US$40 per barel di akhir tahun," kata Arifin.
Pada perdagangan Jumat (30/4) lalu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik 4 sen atau 0,2 persen ke posisi US$26,44 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni bertambah 94 sen atau 5 persen ke US$19,78 per barel.
"Selain itu, kami sebelum terjadi pandemi corona dan perang crude antar OPEC dan non OPEC pada 5 Januari, kami sudah turunkan harga. Kemudian, Februari untuk BBM Ron 92, RON 95, dan RON 98 dilakukan penurunan karena sudah ada indikasi penurunan gasoline terkait crude," paparnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati juga menjelaskan alasan Pertamina tak kunjung menurunkan harga BBM, meski minyak dunia anjlok. Nicke bilang dalam formulasi penentuan harga BBM, Pertamina menggunakan patokan harga minyak global dalam dua bulan ke belakang.
Selain faktor tersebut, ia menjelaskan Pertamina juga mengalami tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, sebanyak 93 persen pengeluaran perseroan menggunakan kurs dolar AS.
Tak hanya itu, ia menuturkan permintaan turun tajam. Secara nasional, permintaan BBM turun hingga 25 persen. Bahkan di kota-kota besar, penurunan permintaan lebih dari 50 persen.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)