OJK Bakal Jadikan Bank BUMN Jangkar Likuiditas Industri Bank

CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 15:10 WIB
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). CNN Indonesia/Adhi Wicaksono. OJK berencana menjadikan bank BUMN sebagai jangkar industri perbankan yang mengalami masalah likuiditas di tengah corona. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menjadikan sejumlah bank-bank pelat merah atau BUMN yang tergabung dalam himbara menjadi penyangga likuiditas atau bank jangkar bagi industri perbankan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan bank jangkar itu bertugas menyediakan likuiditas bagi bank-bank yang mengalami masalah likuiditas karena penyebaran virus corona.

Nantinya, bank jangkar akan mendapatkan aliran likuiditas dari Kementerian Keuangan atas hasil penjualan surat berharga negara (SBN) ke Bank Indonesia (BI).


"Bank jangkar akan mendapatkan dukungan likuiditas dari skema yang ditentukan oleh Kementerian Keuangan. Ini agar bisa menjadi channel bagi-bagi bank-bank yang melakukan restrukturisasi kredit, sehingga likuiditas bisa tetap dijaga," terang Wimboh dalam video conference, Senin (11/5).

Menurut dia, kebijakan mengenai bank jangkar ini sesuai dengan POJK No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical. Beleid itu mengatur tata cara restrukturisasi kredit di tengah penyebaran virus corona.

"Kalau skema ini berjalan, maka yang dikhawatirkan tidak terjadi, likuiditas bank akan baik-baik saja, jangan sampai ada bank yang mengalami masalah likuiditas," imbuh Wimboh.

Ia menyebut industri perbankan telah melakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp336,97 triliun hingga 10 Mei 2020. Restrukturisasi itu diberikan kepada 3,88 juta nasabah di tengah penyebaran virus corona.

Menurutnya, sebagian besar restrukturisasi dilakukan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Seluruh restrukturisasi diberikan kepada nasabah yang terdampak oleh pandemi virus corona.

"Restrukturisasi sebagian besar merupakan kredit UMKM sebesar Rp167,1 triliun dari 3,42 juta debitur," tutur dia.

Kemudian, perusahaan pembiayaan (multifinance) telah melakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp43,18 triliun hingga 8 Mei 2020. Restrukturisasi ini dilakukan untuk 1,32 juta nasabah.

"Sementara kontrak dalam proses adalah 743.785 debitur," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(aud/bir)