Harga Minyak Dunia Berotot Usai Arab Saudi Pangkas Produksi

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 07:45 WIB
Unit pengolahan minyak mentah atau kilang Cilacap milik PT Pertamina (Persero). (Dok. Pertamina) Harga minyak mentah berjangka WTI naik 6,8 persen ke US$25,78 per barel, sedangkan Brent pengiriman Juli naik tipis 0,38 persen. Ilustrasi kilang minyak. (Dok. Pertamina).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merangkak naik. Kenaikan harga minyak terjadi setelah Arab Saudi memangkas produksi demi membatasi pasokan Juni.

Mengutip Antara, Rabu (13/5), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik 38 sen atau 1,2 persen ke posisi US$29,98 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$1,64 atau 6,8 persen ke US$25,78 per barel.


Pada April lalu, OPEC+ memutuskan memangkas produksi minyak sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) untuk Mei dan Juni akibat penurunan permintaan global sebesar 30 persen di tengah pandemi virus corona.

Pemangkasan pun diperkirakan turun menjadi 8 juta bph setelah Juni. Namun, berbagai sumber mengaku bahwa OPEC dan sekutunya menginginkan penurunan di angka yang sama, yaitu 9,7 juta bph.

"Mereka tidak ingin mengurangi jumlah pemangkasan," kata salah seorang sumber OPEC.

Sementara, Arab Saudi pada awal pekan ini menyebut akan meningkatkan pemangkasan dengan mengurangi produksi minyak sebesar 1 juta bph untuk Juni menjadi 7,7 juta bph. Angka ini terjun 40 persen dari produksi April 2020.

Gagasan ini diikuti dengan komitmen Kuwait dan Uni Emirat Arab yang juga sepakat memangkas tambahan 180 ribu bph.

"Gagasan bahwa Saudi, Kuwait, dan UEA mengatakan mereka akan memberlakukan pemangkasan yang lebih dalam daripada yang mereka sepakati pada awalnya membantu pasar menemukan dukungan," terang Wakil Presiden riset pasar Tradition Energy Gene McGillian.

Senada, Kazakhstan menginstruksikan pemangkasan produksi sekitar 22 persen pada Mei hingga Juni. Sementara, Rusia dan Siberia Barat menurunkan produksi sebesar 15 persen tahun ini atau sesuai dengan kesepakatan OPEC+.

Dari data Badan Informasi Energi (EIA) AS, permintaan minyak global turun 8,1 juta bph menjadi 92,6 juta bph. Jumlah konsumsi minyak di AS pun dilansir menurun sebesar 540 ribu pbh menjadi 11,69 juta bph.

[Gambas:Video CNN]

(wel/bir)