Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.946 per dolar AS atau melemah dari Rp14.887 per dolar AS pada Rabu (1/5).
Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia lain. Peso Filipina melemah 0,38 persen, won Korea Selatan minus 0,34 persen, ringgit Malaysia minus 0,25 persen, rupee India minus 0,14 persen, dan dolar Singapura minus 0,11 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pelemahan mayoritas mata uang di dunia dari dolar AS dipengaruhi oleh sentimen kekhawatiran dari pelaku pasar keuangan yang kembali muncul. Kekhawatiran ini, katanya, merespons pandangan dari bank sentral AS, The Federal Reserve.
Gubernur The Fed Jerome Powell mengungkapkan perekonomian dunia kemungkinan masih akan memburuk dalam beberapa waktu ke depan karena pandemi virus corona atau Covid-19. Untuk itu, masih perlu banyak stimulus ekonomi.
Tak hanya mata uang, Ariston mengatakan aset berisiko lain juga tertekan, seperti saham. Indeks Dow Jones melemah 2,71 persen, S&P turun 1,75 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,55 persen.
Senada, Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan mata uang terjadi karena pandangan The Fed. Namun, di sisi lain, hal ini memberikan stimulus bagi aset safe haven, seperti emas, maka tak heran harganya kembali naik.
"Risk aversion kini memicu penguatan pada safe haven," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/age)