BRI Akan Tarik Pinjaman Rp14 T dari 13 Bank Asing

CNN Indonesia | Jumat, 15/05/2020 18:11 WIB
Satu unit lift Gedung Bank Rakyat Indonesia II di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat jatuh dari lantai 3 ke lantai dasar. Diperkirakan, enam orang di dalamnya mengalami luka-luka. BRI akan menarikn pinjaman Rp14 T dari 13 bank asing di tengah penyebaran virus corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengaku mendapatkan komitmen pinjaman luar negeri sebesar US$1 miliar atau Rp14,8 triliun (kurs Rp14.800 per dolar AS). Dana ini akan menambah likuiditas perusahaan untuk beberapa waktu ke depan.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan pinjaman itu berasal dari 13 bank asing. Ia mengklaim pinjaman 13 bank asing tersebut berbunga murah dengan rata-rata di bawah 2 persen.

"Kami jaga-jaga untuk menjaga likuiditas maka kami deal dengan bank-bank asing. Sudah terbentuk 13 bank yang berkomitmen untuk memberikan pinjaman US$1 miliar dengan rata-rata bunga di bawah 2 persen," ungkap Sunarso dalam video conference, Jumat (15/5).


Sunarso menyatakan pihaknya akan mulai menarik pinjaman itu pada Juni 2020 mendatang. Setelah itu, perusahaan akan menukarkan pinjaman berbentuk valuta asing (valas) itu menjadi rupiah.

"Ini masuk nanti akan memperkuat cadangan devisa dan lain-lain karena akan saya tukarkan dengan rupiah dan dengan bunga yang sangat murah juga," terang Sunarso.

Ia mengaku perusahaan membutuhkan likuiditas sebesar Rp112 triliun di tengah pandemi corona. Dana itu akan dibutuhkan untuk memberikan restrukturisasi kepada nasabah yang terdampak wabah corona.

"Dana 112 triliun untuk memberikan restrukturisasi selama 12 bulan," imbuh Sunarso.

Ia merinci, perusahaan membutuhkan likuiditas sebesar Rp91 triliun untuk memberikan restrukturisasi berupa penundaan pokok. Kemudian, jumlah dana yang dibutuhkan BRI untuk memberikan relaksasi berupa penundaan atau pengurangan bunga sebesar Rp21 triliun.

[Gambas:Video CNN]
Sebagai informasi, BRI telah memberikan fasilitas restrukturisasi kepada 1,41 juta nasabah yang terdampak pandemi hingga 30 April 2020. Total kredit yang direstrukturisasi sebesar Rp101,23 triliun.

Perusahaan paling banyak memberikan keringanan kepada pelaku UMKM dengan jumlah nasabah sebanyak 1,38 juta dan nilai restrukturisasi sebesar Rp95,37 triliun. Sementara, nasabah non UMKM yang diberikan relaksasi sebanyak 24 ribu dengan nilai restrukturisasi Rp5,85 triliun. (aud/agt)