Aprindo: Stok Gula di Luar Jabodetabek Kosong Jelang Lebaran

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 16:16 WIB
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4/2020). Pemerintah telah mengeluarkan izin impor gula putih sebanyak 100.000 ton kepada Perum Bulog dan PT RNI (Persero) untuk kebutuhan Ramadan dan lebaran. ANTARA FOTO/Fauzan/pras. Aprindo mengatakan stok gula pasir di luar Jabodetabek kosong jelang perayaan Lebaran. (Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkap bahwa banyak daerah di luar Jabodetabek yang tak kebagian stok gula pasir menjelang Lebaran.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey menyebut stok gula pihaknya sangat terbatas sehingga ada daerah-daerah khususnya di bagian Timur Indonesia seperti Ambon, Papua, dan Manado yang mengalami kekosongan stok gula pasir.

"Kalau di Jakarta (dan sekitarnya) kami masih berusaha sediakan, kalau di luar Jabodetabek khususnya Indonesia Timur benar-benar habis," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.


Alasan kelangkaan stok gula pasir saat ini disebutnya akibat kendala distribusi yang berawal dari keterlambatan penerbitan Surat Persetujuan Impor (SPI).

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menugaskan Aprindo untuk mendistribusikan gula konsumsi sebesar 160 ribu ton kepada masyarakat pada akhir April.

Namun usut punya usut, gelontoran gula pasir untuk Aprindo kian menciut hingga tersisa 30 ribu ton seperti yang tertuang dalam MoU antara Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) dan Aprindo.

"Awalnya memang kata Mendagri 160 ribu ton lalu sorenya kami diinformasikan jadi 145 ribu ton saja. Pada awal Mei meeting dengan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) akhirnya sepakat 92.700 ton karena pabrik gula sudah ada pesanan yang harus dipenuhi," terangnya.

Setelah mendapat informasi bahwa pada minggu ketiga dan keempat Mei gula impor dari India akan masuk RI, Aprindo memutuskan hanya mengambil 30 ribu ton gula saja untuk penjualan secukupnya.

[Gambas:Video CNN]

Katanya, ia tak mau menyimpan gula yang tengah banyak dicari mengingat kemampuan distribusi Aprindo terbilang kecil jika dibandingkan dengan pedagang di pasar tradisional.

Roy bilang, anggota Aprindo hanya memiliki 50 ribu toko, tak sebanding dengan 3,6 juta pasar yang ada di seluruh Indonesia. Dia pun mengaku tak tahu ke mana sisa stok sebesar 62.700 ton yang tak jadi digelontorkan kepada Aprindo tersebut.

Masalah lainnya, kata dia, realisasi sisa gula 30 ribu tersebut mandek. Hingga saat ini baru sekitar 70 persen dari total stok yang terealisasi. Sehingga pihaknya harus membeli stok dari pihak lain yang menyediakan seperti pabrik-pabrik gula di harga hampir menyentuh level HET.

"Kami sekarang kalau beli ke pabrik gula sudah Rp12.300-Rp12.400 per kg, sudah jor-joran sekali. Mau kirim ke Timur ini per kilo kena lagi biaya kapal Rp800-Rp1.000. Kami tidak bisa jual kalau bukan HET karena kami korporasi," pungkasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua AGRI Bernandi Dharmawan menyebut meski belum sepenuhnya terealisasi namun stok gula untuk ritel sesuai kebutuhan masih ada. Namun, mandek pada proses pembungkusan (packaging) per kilo.

"Dalam realisasi perlu ada mekanisme packing menjadi 1 kg dan ini butuh perusahaan packer atau distributor yg punya mesin packer, dan juga kemampuan serap Aprindo adalah 20 ribu per bulan," katanya pada Sabtu (16/5).

Menjawab kekosongan stok gula pasir di luar Jabodetabek, Bernardi menjawab singkat bahwa koordinasi telah dilakukan namun ia tak merinci lebih lanjut.

"Kami diminta juga koordinasi dengan distributor untuk suplai ke wilayah timur," jawabnya. (wel/evn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK