China Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp7.325 Triliun

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 07:03 WIB
A visitor wearing a face mask to protect against the new coronavirus walks through the Forbidden City in Beijing, Friday, May 1, 2020. The Forbidden City reopened beginning on Friday, China's May Day holiday, to limited visitors after being closed to the public for more than three months during the coronavirus outbreak. (AP Photo/Mark Schiefelbein) Pemerintah China akan menggelontorkan stimulus ekonomi 3,6 triliun yuan setara Rp7.325 triliun untuk menciptakan 9 juta lapangan pekerjaan. (AP/Mark Schiefelbein).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China menggelontorkan stimulus senilai 3,6 triliun yuan atau US$500 miliar, setara Rp7.325 triliun untuk mendongkrak ekonomi Negeri Tirai Bambu. Tujuan pertama stimulus ini adalah menciptakan 9 juta lapangan pekerjaan bagi warga terdampak usai pandemi virus corona atau covid-19.

Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan pemerintahannya tidak akan mematok target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini karena besarnya ketidakpastian yang disebabkan penyebaran covid-19. Namun, ia menjanjikan respons fiskal yang lebih agresif yang akan didanai dari utang.

Tahun lalu, China menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen-6,5 persen. Tapi, pada kuartal pertama tahun ini, realisasinya menyusut 6,8 ersen. Laju ekonomi tersebut tercatat yang terparah sejak 1976 silam.


Menurut Li, pandemi covid-19 yang mengakibatkan terhentinya aktivitas masyarakat selama berbulan-bulan di sebagian besar daratan telah memukul ekonomi China. Ini pukulan terbesar dalam sejarah China.

Karena itu, Pemerintah China siap melebarkan defisit anggarannya ke posisi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020. Ini pun pertama kalinya defisit anggaran dipatok di atas 3 persen sejak sistem fiskal negara didirikan pada 1994. "Defisit anggaran tahun lalu 2,8 persen," tuturnya, dilansir CNN.com, Sabtu (23/5).

Tidak cuma itu, Pemerintah China juga akan menerbitkan surat utang (obligasi) khusus senilai 1 triliun yuan atau US$140 miliar setara dengan Rp2.051 triliun. Dana dari surat utang itu, kata Li, akan digunakan untuk memerangi penyebaran virus.

Sementara, pemerintah daerah diizinkan untuk menerbitkan obligasi khusus hingga 3,75 triliun atau setara Rp7.720 triliun, yang dapat digunakan untuk membangun jaringan 5 G, kereta api, bandara, dan proyek-proyek infrastruktur lainnya.

Ekonom dari Capital Economics menilai kebijakan fiskal itu mampu menggenjot ekonomi China tahun ini sekitar 4 persen. Respons fiskal China ini serupa dengan respons pada krisis keuangan global 2008-2009 silam.

"Meskipun, stimulus relatif kuat, mengembalikan ekonomi ke jalur semula bakal menjadi proses yang menantang dan berlarut-larut," tulis ekonom Capital Economics dalam riset.

Puluhan juta orang terpaksa kehilangan pekerjaan di China karena pandemi corona. Bahkan, analis setempat curiga masalah pengangguran di China lebih besar ketimbang data yang dilaporkan pemerintahnya.

Tidak cuma itu, China juga menghadapi tekanan eksternal. Pandemi corona yang terjadi di lebih dari 150 negara di dunia membuat permintaan pengiriman barang dari China menurun. Sektor ekspor China disebut terbebani sangat berat.

Belum lagi, perang dagang yang berkobar kembali antara China dengan Amerika Serikat (AS) ikut meningkatkan kekhawatiran.

Li mengumumkan pemerintahannya tidak 'ngoyo' dengan target ekonomi tahun ini dalam pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional.

[Gambas:Video CNN]


(bir)