"Berbeda dengan 1997-1998 di mana UMKM menjadi juru selamat dan tulang punggung ekonomi, saat ini, 2020, mereka terpukul karena 'lockdown' di tahap pertama, dampak dari larangan lalu lalang," ucap Sandi kala mengisi acara diskusi virtual pada Jumat (22/5) malam.
Menurut catatannya, omzet para pengusaha kecil anjlok sekitar 50 persen sampai 70 persen di tengah pandemi corona. Bahkan, potensi jumlah pengangguran yang bisa mencapai 10 juta hingga 15 juta orang pada tahun ini, mayoritas berasal dari sektor informal dan UMKM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, memberikan bantuan likuiditas agar dapat menambah daya dukung modal dan arus kas UMKM, sehingga bisa mempertahankan usahanya.
"Bukan hanya pelonggaran bagi UMKM, tapi konsepnya 'kapera' alias kredit pemulihan rakyat. Ini karena tabungan mereka sudah habis dan butuh modal kerja. Jadi perlu dilihat apakah plafonnya bisa ditambah, bisa dipercepat, nanti akan tumbuh unicorn baru berbasis new normal," jelasnya.
Kedua, memberi dukungan pada sisi konsumsi para pengusaha kecil, sehingga menopang mereka agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan. Sandi bilang kebijakan ini perlu dilakukan agar dampak dari kejatuhan UMKM tidak semakin besar ke perekonomian.
Lebih lanjut, dari jenis industri, menurutnya usaha yang bisa diberi dukungan lebih dulu adalah yang bergerak di bidang konsumsi. Khususnya yang memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
"UMKM yang bisa survive ke depan itu kembali lagi ke ekonomi kita yang bergantung ke konsumsi, kalau dikerucutin lagi ya pangan. Ini sektor yang cepat rebound," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)