Widodo (46), penjual aneka lauk di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengaku sebelum pandemi ia membuka warung pecel lele di tepi jalan. Sayangnya, dua bulan terakhir pihaknya hanya melayani delivery order (pesan antar).
Tapi, Widodo menjadikan bulan Ramadan dan Idul Fitri sebagai momentum untuk menawarkan menu masakan tradisional berupa ingkung ayam kampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk satu porsi ingkung, Widodo membanderol harga antara Rp100 ribu hingga Rp135 ribu, tergantung ukuran ayam yang dipesan. Dalam satu porsi ingkung itu juga disertakan tiga varian sambal untuk menambah kenikmatan rasa, khususnya bagi para pecinta selera pedas.
"Kami menggunakan ayam kampung tulen, dan sambalnya kami tambah dengan varian sambal gepeng yang dibuat dari kedelai hitam," ucapnya.
Hanya saja, jelang lebaran seperti sekarang ini, harga daging ayam mulai merangkak naik. Sementara harga ingkung tak dinaikkan. Untuk itu pihaknya berharap agar pemerintah tetap bisa menjaga kestabilan harga daging ayam maupun bahan pangan pokok lainnya selama masa pandemi.
Untuk bisa mendapatkan hasil yang empuk dan gurih, lanjut Widodo, ingkung dimasak salama kurang lebih 2-3 jam. Proses memasaknya, setelah daging dibersihkan dan dilumuri bumbu kemudian dimasukkan ke dalam santan kental berbumbu ingkung. Setelah itu direbus dengan api sedang.
"Kalau apinya terlalu besar, hasilnya kurang bagus karena kematangannya tidak merata," jelasnya.
Ingkung ayam kampung ini bisa dinikmati dengan nasi liwet maupun ketupat. Satu porsi ingkung biasanya bisa dinikmati untuk 6 - 8 orang.
[Gambas:Video CNN]
(age)