Geliat Bisnis Kuliner Yogyakarta di Tengah Pandemi Corona

sut, CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 05:00 WIB
Beragam kuliner seperti Sate Gurita dan Cumi mengambil bagian dalam Festival Pecinan 2018 di Glodok. Jakarta, Selasa 19 Februari 2019. CNN Indonesia/Andry Novelino Pandemi covid-19 membuat para pelaku usaha kuliner harus putar otak ekstra keras agar tak gulung tikar.Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi covid-19 membuat para pelaku usaha kuliner harus putar otak ekstra keras agar tak gulung tikar. Pasalnya, omzet menurun drastis sejak pemberlakukan kebijakan social distancing dan stay at home.

Widodo (46), penjual aneka lauk di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengaku sebelum pandemi ia membuka warung pecel lele di tepi jalan. Sayangnya, dua bulan terakhir pihaknya hanya melayani delivery order (pesan antar). 

Tapi, Widodo menjadikan bulan Ramadan dan Idul Fitri sebagai momentum untuk menawarkan menu masakan tradisional berupa ingkung ayam kampung.


"Meskipun ini baru mulai, alhamdulillah antusias pelanggan yang memesan ingkung kami lumayan bagus," ungkap Widodo kepada CNNIndonesia.com, ditemui di kediamannya di Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (22/5).

Bapak satu anak ini mengaku memilih menawarkan menu ingkung ayam kampung, karena selama ini, masakan tersebut sudah sangat terkenal di masyarakat Jawa. Masakan yang disajikan dalam bentuk ayam utuh dengan cita rasa gurih bersantan ini bagi sebagian orang juga dijadikan simbol untuk acara keagamaan.

Kini, selain sebagai menu santapan, ingkung ayam juga dijadikan alternatif untuk hampers Hari Raya. Menurutnya, beberapa hari jelang Idul Fitri, kebanyakan pelanggannya memesan ingkung ayam kampung untuk hantaran lebaran. 

Untuk satu porsi ingkung, Widodo membanderol harga antara Rp100 ribu hingga Rp135 ribu, tergantung ukuran ayam yang dipesan. Dalam satu porsi ingkung itu juga disertakan tiga varian sambal untuk menambah kenikmatan rasa, khususnya bagi para pecinta selera pedas.

"Kami menggunakan ayam kampung tulen, dan sambalnya kami tambah dengan varian sambal gepeng yang dibuat dari kedelai hitam," ucapnya.

Suami dari Sri Maryanti ini mengaku, tak menutup kemungkinan usaha bisnis ingkung ayam kampung ini akan ia lanjutkan pasca idul fitri nanti. Mengingat, permintaan pemesanan cukup bagus. 

Hanya saja, jelang lebaran seperti sekarang ini, harga daging ayam mulai merangkak naik. Sementara harga ingkung tak dinaikkan. Untuk itu pihaknya berharap agar pemerintah tetap bisa menjaga kestabilan harga daging ayam maupun bahan pangan pokok lainnya selama masa pandemi.

Untuk bisa mendapatkan hasil yang empuk dan gurih, lanjut Widodo, ingkung dimasak salama kurang lebih 2-3 jam. Proses memasaknya, setelah daging dibersihkan dan dilumuri bumbu kemudian dimasukkan ke dalam santan kental berbumbu ingkung. Setelah itu direbus dengan api sedang.

"Kalau apinya terlalu besar, hasilnya kurang bagus karena kematangannya tidak merata," jelasnya.

Ingkung ayam kampung ini bisa dinikmati dengan nasi liwet maupun ketupat. Satu porsi ingkung biasanya bisa dinikmati untuk 6 - 8 orang.

[Gambas:Video CNN]

(age)