Media AS Ramal RI Selamat dari Resesi Ekonomi Corona

CNN Indonesia | Senin, 01/06/2020 16:43 WIB
Percepatan pembangunan DKI Jakarta memerlukan sedikitnya biaya Rp571 triliun untuk proyek selama 10 tahun untuk perbaikan infrastruktur, transportasi, air bersih, perumahan dan pengolahan limbah. Jakarta. Rabu 21 Agustus 2019. CNN Indonesia/Andry Novelino Media AS menyebut Indonesia akan selamat dari resesi virus corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Media asal AS, Politico meramal Indonesia akan selamat dari resesi ekonomi akibat virus corona. Dalam risetnya, Politico memberikan ranking kepada 30 negara terkait dampak pandemi kepada ekonomi.

Untuk diketahui, resesi ekonomi merupakan kondisi dimana Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah negara mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut.

Mengutip laman Politico, mereka memetakan kinerja 30 negara terkemuka di dunia dengan mengelompokkannya berdasarkan hasil kinerja di sektor kesehatan dan ekonomi. Mereka menyoroti pembatasan perdagangan, pembatasan interaksi sosial ringan, sedang, atau berat setiap negara.


Hasilnya, Indonesia masuk dalam kategori negara-negara dengan pembatasan ringan. Kategori ini memungkinkan sebagian besar bisnis, kantor, dan sekolah tetap buka, namun dengan kapasitas yang berkurang.

Untuk acara besar memang telah dibatasi serta penerapan syarat tambahan untuk bisnis yang tetap beroperasi. Meskipun demikian, riset Politico juga mengamati langkah Indonesia dalam menangani penyebaran Covid-19. Mereka menilai penanganan Covid-19 oleh Indonesia kacau.

"Indonesia berpotensi terhindar dari resesi, namun respons Indonesia terhadap virus corona pada 17 ribu pulaunya telah kacau," tulis Politico dikutip Senin (1/6).

Politico juga menyoroti penyebaran Covid-19 yang masif di DKI Jakarta. Apalagi di tengah penyebaran itu, pemerintah hanya melakukan pembatasan aktivitas masyarakat secara ringan.

Kebijakan itu kata mereka bisa berpotensi meningkatkan penyebaran virus. Politico mengutip Reuters juga menyebut jika sistem pendataan kematian Indonesia akibat Covid-19, rendah.

[Gambas:Video CNN]

"Tingginya tingkat perokok di negara tersebut menunjukkan populasi yang rentan," tulis Politico.

Menanggapi riset tersebut, pengamat ekonomi membenarkan jika Indonesia memiliki potensi selamat dari jurang resesi ekonomi akibat Covid-19. Potensi tersebut mereka ungkap dengan mempertimbangkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 yang masih positif 2,97 persen.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan meskipun pertumbuhan tersebut anjlok dalam yang berhasil dicapai pada kuartal-kuartal sebelumnya, namun itu masih prestasi. Pasalnya, ekonomi Indonesia pada tiga bulan pertama menjadi salah satu yang terbaik dibandingkan sejumlah negara lainnya.

"Kalau misalnya tren seperti ini terus bisa dijaga, kita punya peluang menghindari resesi ekonomi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Meski punya potensi, ia tetap mengingatkan pemerintah. Menurutnya, Indonesia bisa benar- benar lepas dari resesi apabila penularan virus corona bisa diatasi.

Ini merupakan syarat mutlak yang harus dicapai agar Indonesia bebas dari jeratan resesi. Menurutnya, jika kurva positif Covid-19 tak kunjung berkurang, maka tekanan yang terjadi pada ekonomi juga semakin berlangsung lama.

Berkaitan dengan penurunan jumlah kasus positif corona inilah, ia menyebut pemerintah masih kurang. Ia menilai kinerja tim kesehatan pemerintah kurang maksimal dibandingkan dengan tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju.

"Ketika masuk new normal nanti, kalau protokol kesehatan tidak jelas, maka potensi terjadi second wave (gelombang dua) Covid-19 besar. Kalau itu terjadi, maka kinerja ekonomi semester II bakalan negatif dan resesi," imbuhnya.


Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengamini pernyataan Fithra. Menurutnya Indonesia berpeluang terlepas dari resesi ekonomi. Dengan catatan, penanganan Covid-19 berjalan maksimal.

"Kemungkinan bisa diwujudkan apabila tidak ada second wave wabah setelah diberlakukannya pelonggaran ekonomi atau new normal," ucapnya.

(ulf/agt)