Salah satunya PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) yang mulai mempercepat penyelesaian kontrak kerja pilot dengan status hubungan kerja tertentu. Langkah ini diambil demi bertahan dari tekanan akibat virus corona.
Pasalnya, pandemi covid-19 membuat ketersediaan dan permintaan (supply dan demand) penerbangan tak sejalan sehingga menimbulkan kerugian. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkap keputusan percepatan maskapai tersebut cukup berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Lion Air Group Setop Terbang Mulai 5 Juni |
Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan pemberian THR tahun ini hanya diberikan kepada pegawai dengan penghasilan total sama dengan UMR. Mayoritas pegawai itu bekerja sebagai tenaga kebersihan, pengamanan, pengemudi, porter dan staf tertentu.
Nilai nominal THR juga tak diberikan penuh. Rencananya pembayaran baru akan dipenuhi jika operasional normal kembali dan kondisi perusahaan membaik (jumlah penumpang dan jumlah frekuensi penerbangan).
Meski berpikir melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Lion Air telah melakukan pemotongan penghasilan seluruh manajemen dan karyawan dengan persentase yang bervariasi. Kebijakan-kebijakan tersebut telah mulai dilaksanakan dan diterapkan pada Maret, April, Mei sampai waktu yang belum ditentukan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat memaparkan bahwa Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan pendapatan bisnis penerbangan secara global berpotensi menguap US$314 miliar atau Rp4.710 triliun (asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS).
Situasi lebih parah bahkan dialami maskapai Thai Airways. Maskapai asal Thailand tersebut harus melakukan restrukturisasi dengan bantuan pemerintah karena terancam bangkrut.
Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.
Sementara itu, maskapai penerbangan Kolombia Avianca dan Virgin Australia mengajukan kebangkrutan, sementara maskapai penerbangan asal Inggris Flybe gulung tikar pada Maret karena tak sanggup bertahan karena mengalami krisis finansial akibat pandemi virus corona.
[Gambas:Video CNN]
(jal/age)