Jajaran Maskapai yang Terdampak Virus Corona

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 20:53 WIB
Pesawat komersial maskapai Citilink mendarat di landasan Yogyakarta International Airport (YIA) saat Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang 'terpukul' cukup keras saat pandemi virus corona menyebar. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang 'terpukul' cukup keras saat pandemi virus corona menyebar. 'Pukulan' tersebut pun sampai pada jajaran maskapai di Indonesia.

Salah satunya PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) yang mulai mempercepat penyelesaian kontrak kerja pilot dengan status hubungan kerja tertentu. Langkah ini diambil demi bertahan dari tekanan akibat virus corona.

Pasalnya, pandemi covid-19 membuat ketersediaan dan permintaan (supply dan demand) penerbangan tak sejalan sehingga menimbulkan kerugian. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkap keputusan percepatan maskapai tersebut cukup berat.


"Namun demikian, kami yakin Garuda Indonesia akan dapat terus bertahan dan kondisi operasional perusahaan akan terus membaik dan kembali kondusif sehingga mampu melewati masa yang sangat menantang bagi industri penerbangan saat ini," kata Irfan, Selasa (2/6).

Percepatan ini menjadi langkah lanjutan Garuda Indonesia setelah melakukan pemotongan gaji karyawan yang rentangnya bervariasi mulai dari 15 persen hingga 50 persen, beberapa waktu lalu. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Garuda Indonesia Nomor: JKTDZ/SE/70010/2020 tentang Ketentuan Pembayaran Take Home Pay Terkait Pandemi Covid-19.

Garuda Indonesia bukan satu-satunya maskapai yang melakukan penyesuaian karena terdampak corona. Sebelumnya, Lion Air Group menunda pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan pada Idulfitri 2020 demi kelangsungan perusahaan mereka.

Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan pemberian THR tahun ini hanya diberikan kepada pegawai dengan penghasilan total sama dengan UMR. Mayoritas pegawai itu bekerja sebagai tenaga kebersihan, pengamanan, pengemudi, porter dan staf tertentu.

Nilai nominal THR juga tak diberikan penuh. Rencananya pembayaran baru akan dipenuhi jika operasional normal kembali dan kondisi perusahaan membaik (jumlah penumpang dan jumlah frekuensi penerbangan).

Untuk kelompok pegawai berpenghasilan menengah seperti mekanik, awak kabin (pramugari, pramugara) dan staf, THR akan dibayar jika operasional penerbangan sudah normal kembali serta kondisi sudah baik dan stabil.

Meski berpikir melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Lion Air telah melakukan pemotongan penghasilan seluruh manajemen dan karyawan dengan persentase yang bervariasi. Kebijakan-kebijakan tersebut telah mulai dilaksanakan dan diterapkan pada Maret, April, Mei sampai waktu yang belum ditentukan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat memaparkan bahwa Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan pendapatan bisnis penerbangan secara global berpotensi menguap US$314 miliar atau Rp4.710 triliun (asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS).

Situasi lebih parah bahkan dialami maskapai Thai Airways. Maskapai asal Thailand tersebut harus melakukan restrukturisasi dengan bantuan pemerintah karena terancam bangkrut.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi.

Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

Sementara itu, maskapai penerbangan Kolombia Avianca dan Virgin Australia mengajukan kebangkrutan, sementara maskapai penerbangan asal Inggris Flybe gulung tikar pada Maret karena tak sanggup bertahan karena mengalami krisis finansial akibat pandemi virus corona.

[Gambas:Video CNN]

(jal/age)