Ekonom Senior Bidang Makroekonomi, Perdagangan, dan Investasi Bank Dunia Ralph van Doorn mengatakan peningkatan terjadi akibat pelebaran defisit anggaran fiskal pemerintah. Hal ini terjadi lantaran besarnya kebutuhan dana untuk penanganan dampak pandemi virus corona atau covid-19 di Tanah Air.
"Didorong oleh defisit (anggaran) yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih lambat," ucap Ralph saat diskusi virtual di BNPB, Selasa (2/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Dunia memperkirakan ekonomi nasional yang semula bisa tumbuh 5,2 persen akan terjun menjadi nol persen dan skenario terburuk mencapai minus 3,5 persen.
Di sisi lain, tekanan pada tingkat utang Indonesia juga datang dari tingginya tingkat imbal hasil (yield) atas surat utang yang dilepas oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dana di tengah pandemi corona.
"Juga rasio bunga terhadap pendapatan yang terkena bunga utang yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih rendah," terangnya.
Kendati tingkat utang meningkat, namun Bank Dunia mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga kepercayaan pasar melalui pengelolaan fiskal yang baik. Caranya, dengan mengambil kebijakan ke depan untuk pemulihan pelebaran defisit anggaran dan menutup pembiayaan yang terlanjur diambil dari Bank Indonesia (BI).
Itu merupakan SBN yang dilepas oleh asing ketika kondisi pasar keuangan di dalam negeri dianggap tidak kondusif. Namun, kini BI bisa membeli surat utang pemerintah di pasar perdana.
BI menargetkan setidaknya bisa menyerap surat utang pemerintah sekitar Rp125 triliun atau 25 persen dari total target penerbitan. Tercatat BI sudah membeli surat utang pemerintah sekitar Rp22,8 triliun sampai 14 Mei 2020.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)