Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan defisit APBN bakal melebar menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) karena penambahan anggaran penanganan virus corona.
Ekonom sekaligus Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan perhitungan defisit biasanya menggunakan teknik anggaran antar waktu yang lazim dipraktekkan oleh negara-negara Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan perbankan saat ini telah memberikan restrukturisasi kredit kepada UMKM. Jangka waktu pelanggaran tersebut hingga April 2021 mendatang. Namun, skenario terburuk UMKM belum bisa melunasi kewajiban mereka bahkan setelah masa restrukturisasi berakhir.
"Selama (restrukturisasi) itu kembalinya (uang) ke bank tidak bisa penuh, kalau bank tidak menerima masukan maka bank bisa kolaps. Dan kalau tidak ada uang cukup akan bahaya, nanti ada krisis. Jadi, lebih baik besar daripada kurang," jelasnya.
Dari sisi pembiayaan defisit, ia meyakini pemerintah masih bisa mendapatkan dana dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Menurutnya, SBN Indonesia masih menarik di mata investor asing dan domestik. Bahkan, ia menilai Bank Indonesia (BI) tidak perlu banyak membeli SBN pemerintah di pasar perdana.
"Yang menarik rupiah menguat terus ke posisi Rp14.200 per dolar AS, karena ternyata banyak investor asing tertarik SBN sehingga pembiayaan dari SBN masih laku. Jadi, tidak ada masalah dari sisi pembiayaan defisitnya," paparnya.
Menurutnya, SBN Indonesia masih menarik karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif pada kuartal I 2020 yakni 2,7 persen, meskipun lebih rendah dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan negara lain, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik. Kinerja ekonomi ini sudah diakui oleh sejumlah lembaga internasional seperti Moody's dan riset AS, Politico.
Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan sejumlah negara juga melebarkan defisit karena tambahan biaya penanggulangan dampak Covid-19.
"Dalam situasi sekarang pelebaran defisit menjadi hal yang harus dilakukan, sebagai pembanding banyak negara yang melebarkan defisit karena tambahan belanja besar, seperti Malaysia dan Amerika Serikat" katanya.
Namun, ia menekankan agar pemerintah menjaga struktur pembiayaan guna meminimalisasi risiko pelebaran defisit. Caranya, menambah kepemilikan domestik atas SBN pemerintah dan sebaliknya mengurangi porsi asing.
"Dengan kepemilikan dalam negeri pemerintah lebih bisa waspada dan hati-hati dalam antisipasi gejolak ekonomi global," ucapnya.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah bisa menurunkan tingkat bunga utang sehingga bisa mengurangi beban APBN ke depan untuk pembayaran bunga utang. Saat ini, lanjutnya, adalah momentum tepat menurunkan suku bunga utang lantaran tren di pasar keuangan juga rendah.
Selain itu, tren inflasi yang menjadi salah satu komponen penyusun suku bunga, juga ini diprediksi rendah sepanjang tahun.
"Tingkat bunga dipengaruhi inflasi, semakin besar inflasi pemerintah harus menetapkan suku bunga yang lebih tinggi untuk akomodasi gap inflasi. Tren inflasi Mei lalu lebih rendah jadi menurut saya bukan tidak mungkin imbal hasil yang ditawarkan bisa lebih rendah," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/sfr)