Anggaran PEN Bengkak, Defisit APBN Melebar Jadi Rp1.039,2 T

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 12:55 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di ruang Aula Djuanda, Lt. Mezzanine, Kementerian Keuangan. Jakarta.  Rabu (22/1/2020). CNN Indonesia/Andry Novelino Menkeu Sri Mulyani menyatakan pembiayaan defisit akan diambil dari sumber eksternal dan internal pemerintah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bakal melebar menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Pelebaran itu sebagai konsekuensi dari membengkaknya anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menjadi Rp677,2 triliun.

Sebelumnya, dalam Perpres 54/2020, defisit anggaran ditargetkan Rp582,9 triliun atau 5,07 persen terhadap PDB.

"Kenaikan defisit ini akan tetap kami jaga secara hati-hati," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers, Rabu (6/3).


Sri Mulyani mengungkapkan, dalam usulan revisi baru APBN, pendapatan negara diprediksi turun dari Rp1.760,9 triliun menjadi Rp1.699,1 triliun. Khusus untuk penerimaan pajak merosot dari Rp1.462,6 triliun menjadi Rp1.404,5 triliun.


Sementara, belanja negara meningkat Rp124,5 triliun yang mencakup berbagai belanja untuk mendukung PEN dan penanganan wabah corona, baik dari sisi sektoral maupun regional.

Untuk membiayai defisit itu, sambung Sri Mulyani, pemerintah akan menggunakan sumber pendanaan dengan risiko paling kecil dengan biaya kompetitif rendah.

"Termasuk, sumber internal pemerintah sendiri seperti saldo anggaran lebih pemerintah, dana abadi, dan Badan Layanan Umum," ujarnya.

Sebagai informasi, pemerintah kembali menambah anggaran program PEN dari Rp641,17 triliun menjadi Rp677,2 triliun. Penambahan tersebut itu dilakukan untuk biaya penanganan covid-19, santunan kematian, hingga BLT Dana Desa.

[Gambas:Video CNN]


(aud/sfr)