OPEC Sepakat Pangkas Produksi Minyak, Meksiko Membangkang

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Minggu, 07/06/2020 07:17 WIB
Kantor pusat the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Vienna, Austria. OPEC dan sekutunya sepakat melanjutkan pemangkasan produksi minyak sebanyak 9,7 juta barel per hari hingga Juli. Namun, Meksiko membangkang. (dok opec.org).
Jakarta, CNN Indonesia -- OPEC, organisasi negara-negara penghasil minyak, bersama sekutunya sepakat untuk memangkas produksi hingga Juli. Kesepakatan pemangkasan produksi minyak ini ialah perpanjangan perjanjian dari yang sudah dicapai OPEC, termasuk Rusia dan Meksiko.

Mereka sepakat memangkas produksi minyak sebesar 9,7 juta barel per hari pada Mei dan Juni, demi menopang harga yang sempat jatuh dalam. Penurunan harga minyak di tengah pandemi virus corona disebabkan oleh lemahnya permintaan pasar karena kebijakan social distancing dan work from home.

Tetapi, Meksiko membangkang untuk melanjutkan pemangkasan produksi minyak. Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador menegaskan tidak sepakat untuk memangkas produksi lebih dalam dari 100 ribu barel per hari.


Padahal, pemangkasan pada Mei dan Juni telah membantu pasar menopang harga minyak. "Permintaan pun kembali meningkat secara global, karena aktivitas ekonomi perlahan-lahan kembali ke bentuk normal," terang Menteri Energi Aljazair, sekaligus Presiden OPEC, dikutip CNN.com, Minggu (7/6).

Irak dan Nigeria pun sempat memproduksi minyak mentah di atas kuota yang dipatok pada Mei dan Juni. Alasannya kedua negara menghadapi kesulitan ekonomi, sehingga sulit untuk patuh dengan kebijakan pemangkasan produksi.

Namun demikian, kedua negara sepakat untuk mengkompensasi kelebihan produksi mereka dengan pemangkasan tambahan pada Juli, Agustus, dan September nanti.

Pandemi virus corona telah mengakibatkan permintaan minyak turus drastis, sehingga para produsen kehabisan tempat untuk menampung produksi. Pada saat yang sama, Rusia dan Arab Saudi membanjiri pasokan yang mengakibatkan harga minyak jatuh hingga menyentuh minus, pertama kalinya pada 20 April 2020 lalu.

"Saya tidak bisa bayangkan bahwa saya hidup untuk menyaksikan hal ini (tragedi harga minyak)," kata Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz al-Saud, Menteri Energi Arab Saudi.

Pada akhir pekan lalu, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik hingga di atas US$42 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret. Harga minyak sudah naik lebih dari 18 persen dalam sepekan.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate meningkat menjadi lebih dari US$39 per barel.

Investor melihat situasi untuk minyak mental global mulai membaik dan sebagian besar fokus pada apa yang akan terjadi Agustus nanti. Craig Erlam, Analis Pasar Oanda, memperkirakan pasokan minyak akan meningkat lagi pada Agustus.

"Orang-orang akan keluar dari rumah dan kembali bekerja. Mungkin, mereka akan menghindari transportasi umum. Kemudian, perbatasan dibuka kembali. Saya kira, pemangkasan produksi tidak akan bertahan lama," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]

(bir)