Akibatnya, pabrik-pabrik di India kini tidak bisa beroperasi karena tak lagi memiliki tenaga kerja. Sebab, pabrik-pabrik yang berlokasi di sekitar New Delhi umumnya mempekerjakan buruh migran yang berasal dari desa-desa di pelosok negeri dan sejumlah negara lain.
Saat pemerintah India menerapkan lockdown (penguncian wilayah) pada akhir Maret lalu, jutaan pekerja migran terpaksa kembali ke tempat asalnya karena aktivitas ekonomi dan produksi di pabrik yang terhenti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kharbanda mengatakan produksi sepatu olahraga telah terhenti karena tidak ada pekerja terampil yang dapat mengoperasikan mesin berteknologi tinggi.
"Kami hanya menjalankan satu shift sekarang. Biaya produksi telah naik dan keuntungan kami turun," kata Kharbanda.
Sementara itu, untuk menarik kembali para pekerja, kilang garam di India menawarkan gaji dua kali lipat. Namun, para pengamat memperkirakan para pekerja tidak akan kembali dalam waktu dekat.
"Banyak industri manufaktur sebenarnya terletak di negara-negara bagian di mana dampak pandemi itu sangat besar (seperti) Tamil Nadu, Gujarat, Maharashtra, Delhi. Sekarang ini adalah masa di mana pekerja secara alami meninggalkan kota dalam jumlah besar ... Mereka tidak akan kembali dengan tergesa-gesa," kata pengamat dari Jawaharlal Nehru University, Profesor Santosh Mehrotra.
Para ahli juga memprediksi ekonomi India yang merupakan terbesar ketiga di Asia akan terkena dampak buruk dalam jangka pendek karena kurangnya pekerja ini. Ekonomi diperkirakan melambat dalam 11 tahun terakhir.
Pemerintah telah mengumumkan paket stimulus 20 triliun rupee atau sekitar Rp370 triliun untuk memacu ekonomi. Namun, para pengamat mengaku tak berharap banyak pada stimulus itu.
"Kepergian para pekerja itu sendiri sangat traumatis. Mereka telah melalui banyak penghinaan. Beberapa dari mereka mungkin kembali, tetapi banyak dari mereka akan mencari pekerjaan bukan di kota-kota metro tetapi di kota-kota kecil yang kurang terpengaruh oleh virus," kata Mehrotra.
Salah seorang pekerja migran yang kembali ke daerah asalnya mengaku tak ingin kembali bekerja di kota-kota besar.
"Saya tidak punya pekerjaan selama dua bulan di sini dan saya menghadapi banyak masalah. Sekarang aku hanya ingin bersama keluargaku di desa," kata Mohammed Naseem Aktar, pekerja migran yang berusia 21 tahun itu kepada AFP. (ptj/eks)