Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari kebijakan cetak uang lewat quantitative easing yang dilakukan Amerika Serikat (AS) untuk menangani covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian.
"Begitu AS mencetak uang US$2,5 triliun, pasti mereka membutuhkan rembesan. Dan mata uang negara-negara lain, otomatis menguat," ujarnya dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) tentang RUU Cipta Kerja di Badan Legislasi DPR, Selasa (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, kata Rosan, aliran modal masuk (inflow) ke pasar saham dan keuangan dalam negeri juga turut membawa rupiah ke level fundamentalnya.
"Surat utang pemerintah bertenor 10 tahun masih di level tadinya 8 persen sekarang sudah di 7,8 persen tapi dibandingkan Asean itu sudah terbilang tinggi karena rata-rata mereka 3 persen. Ini akan membuat indeks kita naik, dan mata uang insyaallah akan mencapai Rp12 ribu dan suku bunga dari surat utang kita akan menurun," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(hrf/bir)