"Belum ada keputusan soal itu (masuknya Jepang dalam proyek kereta cepat)," ucap Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Ridwan Djamaluddin dalam video conference, Senin (15/6).
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti pembahasan integrasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya. Hal yang pasti, Ridwan menyatakan wajar jika ada calon mitra baru yang ingin masuk di tengah proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ridwan menjelaskan persoalan mitra baru dalam proyek infrastruktur adalah murni keputusan pemerintah Indonesia. Hal itu bukan menjadi urusan China atau Jepang.
"Pembahasan integrasi belum. Belum sampai ke sana. Ini bukan persoalan Jepang atau China, ini urusan dalam negeri," tegas Ridwan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Jepang akan masuk dalam anggota konsorsium Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung - Surabaya. Ia bilang Jepang akan masuk konsorsium karena rute akan diperpanjang dari yang sebelumnya hanya Jakarta-Bandung menjadi Jakarta-Bandung-Surabaya.
Selain itu, pelibatan juga dilakukan karena karena proses pengerjaan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang melibatkan konsorsium China mengalami keterlambatan selama satu tahun. Semua ini, kata Airlangga, adalah laporan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (aud/agt)